Pagi itu suasana rumah sedikit berbeda.
Ibu sudah sibuk sejak subuh, menyiapkan beberapa barang dan daftar belanja. Hari itu adalah hari pasar, hari di mana ibu biasanya pergi membeli kebutuhan rumah.
Aku melihat ibu menyiapkan keranjang belanja sambil menghitung uang dengan hati-hati.
Wajahnya serius, seolah setiap lembar uang memiliki tugasnya masing-masing.
Aku mendekat.
“Ibu mau ke pasar?”
Ibu mengangguk.
“Iya. Beras mulai habis, minyak juga tinggal sedikit.”
Aku terdiam.
Aku tahu, pergi ke pasar bukan hanya soal belanja. Itu juga soal bagaimana ibu harus mengatur uang agar cukup untuk semuanya.
“Aku ikut, Bu,” kataku.
Ibu menoleh.
“Tidak usah, kamu di rumah saja.”
“Aku mau bantu bawa barang.”
Ibu tersenyum kecil.
“Kamu yakin?”
Aku mengangguk.
“Iya, Bu.”
Akhirnya ibu setuju.
Pagi itu, kami berjalan bersama menuju pasar.
Jalanan mulai ramai. Orang-orang sibuk dengan urusan masing-masing. Ada yang membawa hasil kebun, ada yang berjualan, dan ada yang hanya sekadar lewat.
Aku berjalan di samping ibu sambil membawa keranjang kosong.
Pasar tidak terlalu jauh, tapi cukup membuat kami berkeringat.
Sesampainya di pasar, suasananya seperti dunia yang berbeda.
Ramai.
Suara pedagang saling menawarkan dagangan. Bau sayur, ikan, rempah-rempah, dan tanah bercampur menjadi satu.
Orang-orang berjalan saling berpapasan.
Aku mengikuti ibu dari belakang.