Hari-hari kembali berjalan seperti biasa.
Aku mulai terbiasa dengan rutinitasku—bangun pagi, membantu ibu, lalu sesekali keluar mencari pekerjaan kecil. Semuanya terasa mulai teratur, walaupun tidak selalu mudah.
Namun ada satu hal yang mulai sering aku perhatikan.
Ibu.
Pagi itu, seperti biasa ibu sudah ada di dapur. Tapi gerakannya tidak secepat biasanya.
Ia sesekali berhenti, memegang pinggangnya, lalu melanjutkan pekerjaan.
Aku melihat dari jauh.
“Ibu…” panggilku.
“Iya, Rana?” jawabnya sambil tetap memasak.
“Ibu capek ya?”
Ibu tersenyum.
“Tidak apa-apa.”
Jawaban itu lagi.
Jawaban yang sama seperti sebelumnya.
Aku mendekat.
“Biar aku saja yang lanjut, Bu,” kataku.
Ibu menggeleng.
“Kamu sudah banyak bantu.”
“Tapi ibu kelihatan capek.”
Ibu terdiam sebentar.
Lalu ia berkata pelan,
“Namanya juga ibu.”
Aku tidak tahu harus menjawab apa.
Seharian itu aku memperhatikan ibu.
Ia tidak pernah benar-benar berhenti.
Dari dapur ke ruang tengah.
Dari mencuci ke membereskan.
Dari mengurus adik-adik sampai menyiapkan semuanya.
Seolah-olah…