Anak Ke Empat Dari 11 Bersodara

Rana Kurniawan
Chapter #14

Hujan dan Cerita Lama

Langit pagi itu terlihat gelap sejak matahari belum sepenuhnya muncul.

Angin bertiup lebih dingin dari biasanya. Daun-daun di depan rumah bergerak pelan, seolah memberi tanda bahwa hujan akan segera datang.

Aku berdiri di depan rumah sambil melihat langit.

Tak lama kemudian, suara petir terdengar dari kejauhan.

Dan benar saja…

Hujan turun perlahan.

Hari itu suasana rumah terasa lebih tenang.

Adik-adikku tidak banyak bermain di luar. Mereka berkumpul di dalam rumah, mendengarkan suara hujan yang jatuh di atap.

Ridwan duduk di dekatku sambil melihat air hujan mengalir di halaman.

“Ka Rana…”

“Hm?”

“Kalau hujan begini enak tidur ya,” katanya polos.

Aku tertawa kecil.

“Iya.”

Di dapur, ibu sedang membuat teh hangat. Aroma teh bercampur dengan udara dingin membuat rumah terasa nyaman.

Aku membantu membawa beberapa gelas ke ruang tengah.

Kami duduk bersama sambil menikmati suasana hujan.

Jarang sekali kami punya waktu setenang ini.

Tiba-tiba, Risa bertanya pada ibu.

“Ibu…”

“Iya?”

“Waktu ibu kecil… rumah ibu juga ramai?”

Ibu tersenyum kecil.

“Tidak seramai ini.”

Semua tertawa pelan.

Entah bagaimana, obrolan siang itu berubah menjadi cerita masa lalu.

Ibu mulai bercerita tentang kehidupannya dulu.

Tentang bagaimana susahnya hidup waktu kecil. Tentang bekerja sejak muda. Tentang perjuangan sebelum akhirnya memiliki keluarga seperti sekarang.

Lihat selengkapnya