Pagi itu rumah kembali sibuk seperti biasa.
Ibu di dapur, kakak-kakakku membantu pekerjaan rumah, sementara adik-adik mulai ribut sendiri sejak pagi.
Aku baru saja selesai menyapu halaman ketika suara Ridwan terdengar dari dalam rumah.
“Ka Rana! Lihat!”
Aku masuk dan melihat Ridwan memegang sebuah mainan kecil milik temannya.
Matanya terlihat berbinar.
“Bagus ya?” katanya.
Aku tersenyum kecil.
“Iya, bagus.”
Ridwan memainkan mainan itu dengan hati-hati, seolah benda itu sangat berharga.
Tak lama kemudian, teman Ridwan pulang dan membawa kembali mainannya.
Ridwan hanya diam memperhatikan sampai temannya pergi.
Setelah itu, ia duduk di dekat pintu rumah dengan wajah lebih tenang… terlalu tenang untuk anak kecil.
Aku duduk di sampingnya.
“Kenapa?”
Ridwan menggeleng.
“Tidak apa-apa.”
Aku mengenalnya cukup baik untuk tahu kalau itu bukan jawaban sebenarnya.
“Kamu pengen punya mainan seperti itu?” tanyaku.
Ridwan terdiam beberapa detik… lalu mengangguk pelan.
Dadaku terasa sedikit sesak.
Bukan karena permintaannya sulit.
Justru karena permintaannya sangat sederhana.
“Ya nanti kalau ada rezeki,” kataku pelan sambil mengusap kepalanya.
Ridwan langsung mengangguk.
“Iya.”
Ia tidak memaksa.
Tidak merengek.
Dan itu justru membuatku semakin merasa sedih.
Siang harinya, aku terus memikirkan Ridwan.