Anak Ke Empat Dari 11 Bersodara

Rana Kurniawan
Chapter #19

Awal Perselisihan

Sejak kedatangan Paman Harun dari Jakarta, suasana rumah kami memang masih terlihat biasa dari luar.

Kami masih makan bersama.

Masih saling menyapa.

Masih bercanda seperti keluarga pada umumnya.

Namun aku mulai merasakan sesuatu yang berbeda.

Sesuatu yang tidak terlihat, tetapi terasa.

Suatu sore, ayah kembali kedatangan Paman Harun.

Mereka duduk di ruang depan.

Kali ini suara mereka terdengar lebih jelas daripada sebelumnya.

“Aku hanya meminta hakku,” kata Paman Harun.

“Aku tidak bilang itu bukan hakmu,” jawab ayah tenang.

“Kalau begitu kenapa dipersulit?”

Aku yang sedang menyapu halaman langsung menghentikan gerakanku.

Jantungku berdetak lebih cepat.

Ayah jarang sekali berdebat dengan orang lain.

Terlebih dengan saudara sendiri.

Namun hari itu aku mendengar nada suara ayah yang lebih tegas.

“Aku tidak mempersulit.”

“Lalu kenapa belum selesai sampai sekarang?” tanya paman.

Ruangan tiba-tiba menjadi sunyi.

Malam harinya, ayah hanya duduk diam di depan rumah.

Biasanya beliau akan berbincang dengan ibu atau menanyakan kegiatan kami.

Tapi malam itu tidak.

Beliau lebih banyak diam.

Aku duduk di samping ayah.

“Ayah…”

“Iya?”

Lihat selengkapnya