Waktu terus berjalan.
Masalah antara ayah dan Paman Harun belum juga menemukan jalan keluar. Mereka memang tidak bertengkar secara terbuka, tetapi suasana di antara mereka tidak lagi sama seperti dulu.
Aku bisa merasakannya.
Bahkan ibu pun terlihat lebih sering diam ketika pembicaraan tentang keluarga besar muncul.
Di tengah semua itu, bulan Ramadan semakin dekat.
Biasanya, kabar datangnya Ramadan selalu membawa suasana berbeda di rumah kami.
Adik-adikku mulai bersemangat.
Rina dan Rini bahkan sudah membicarakan menu berbuka jauh-jauh hari.
“Kalau puasa nanti aku mau kolak,” kata Rina.
“Aku mau gorengan,” sahut Rini.
“Kalian belum puasa saja sudah mikirin buka,” kata Sadiah sambil tertawa.
Rumah kembali dipenuhi suara tawa.
Dan untuk sesaat, masalah warisan terasa jauh.
Suatu sore, setelah salat Magrib, ayah mengumpulkan kami.
“Kalian tahu sebentar lagi Ramadan?”
“Iya!” jawab kami hampir bersamaan.
Ayah tersenyum kecil.
“Ramadan bukan hanya soal menahan lapar dan haus.”