Ramadan sudah berjalan hampir dua minggu.
Suasana kampung semakin hidup setiap sore. Banyak anak-anak bermain menjelang berbuka, sementara orang dewasa mulai sibuk mempersiapkan kebutuhan untuk Lebaran yang masih beberapa minggu lagi.
Di rumah kami, semuanya terlihat berjalan normal.
Namun aku tahu, masalah antara ayah dan Paman Harun belum benar-benar selesai.
Suatu siang, saat aku membantu ibu membereskan dapur, terdengar suara seseorang memanggil dari depan rumah.
"Pak Saderi!"
Aku keluar dan melihat seorang petugas mengantarkan surat.
Ayah menerima surat itu lalu mengucapkan terima kasih.
Awalnya aku tidak terlalu memikirkannya.
Tapi setelah membaca surat tersebut, wajah ayah berubah serius.
Malam harinya, aku melihat ayah duduk diam dengan surat itu di tangannya.
Ibu duduk di samping beliau.
"Apa kata mereka?" tanya ibu pelan.
Ayah menghela napas panjang.
"Mereka meminta pembagian warisan dipercepat."
Dadaku langsung terasa tidak nyaman.
Aku tahu surat itu berkaitan dengan masalah yang selama ini terjadi.
"Apa harus sekarang?" tanya ibu.
Ayah menggeleng pelan.
"Aku juga tidak mengerti kenapa harus terburu-buru."
Suasana menjadi hening.
Hari-hari berikutnya, ayah beberapa kali pergi menemui keluarga besar untuk membahas persoalan itu.