"Rana... bangun."
Suara ibu membangunkanku lebih awal dari biasanya.
Aku membuka mata perlahan.
Hari itu berbeda.
Hari yang sudah ditunggu selama sebulan penuh akhirnya tiba.
Hari Raya Idulfitri.
Di luar, langit masih sedikit gelap.
Namun suasana rumah sudah ramai.
Ibu dan kakak-kakakku sibuk menyiapkan sarapan.
Ayah sudah mengenakan pakaian terbaiknya.
Rina dan Rini bahkan sudah memakai baju Lebaran sejak sebelum matahari terbit.
"Bagus nggak?" tanya Rina sambil berputar.
"Bagus," jawabku sambil tertawa.
Ridwan keluar dari kamar dengan wajah ceria.
Mobil-mobilan kecil pemberianku masih ada di tangannya.
"Ka Rana, aku ganteng nggak?"
Aku tertawa.
"Ganteng."
Ridwan langsung tersenyum lebar.
Setelah semuanya siap, kami berjalan menuju lapangan tempat salat Id dilaksanakan.
Jalan kampung dipenuhi orang-orang.
Semua memakai pakaian terbaik mereka.
Suasana yang hanya datang setahun sekali.
Aku berjalan di samping ayah.
Sesekali kami menyapa tetangga dan saudara yang berpapasan.
"Selamat Hari Raya."
"Mohon maaf lahir dan batin."
Kalimat itu terdengar di mana-mana.
Salat Id berlangsung dengan khusyuk.
Saat khutbah dimulai, aku mendengarkan dengan serius.