Bagi Paul Anderson, Jakarta adalah sebuah simfoni yang dimainkan dengan volume maksimal tanpa tombol jeda.
Laki-laki berusia dua puluh tujuh tahun asal Boston itu menyandarkan kepalanya pada kaca jendela taksi yang buram oleh uap AC. Di luar, kemacetan sore hari daerah pinggiran Jakarta tampak seperti pameran kendaraan bermotor tanpa akhir. Bunyi klakson yang bersahutan, deru mesin motor yang menyalip dari celah-celah sempit, hingga aroma asap knalpot yang sesekali menyelinap masuk lewat sela ventilasi, semuanya berpadu menciptakan distorsi yang aneh di kepalanya.
Paul memejamkan mata birunya sejenak. Jika ayahnya di Amerika tahu bahwa dia menolak posisi direktur di perusahaan investasi keluarga demi menjadi fotografer lepas di sudut terjauh Asia Tenggara, sang ayah pasti sudah mengirim psikiater terbaik untuk memeriksa isi kepalanya. Tapi Boston terlalu dingin, terlalu teratur, dan yang paling parah: terlalu penuh dengan ekspektasi yang mencekik lehernya. Di Jakarta, tidak ada yang tahu siapa dia. Di sini, dia hanyalah seorang asing dengan kamera dslr tua yang menggantung di leher dan ransel kanvas besar yang mulai pudar warnanya.
"Mas Bule, kita sudah sampai di mulut Gang Harmoni. Mobil nggak bisa masuk lebih dalam lagi, ya. Gangnya sempit banget, becek pula habis hujan tadi," ujar sopir taksi dengan logat Jawa yang kental, membuyarkan lamunan Paul.
"Oh, yes. No problem, Pak. Terima kasih banyak," jawab Paul dengan bahasa Indonesia yang masih agak kaku, meskipun artikulasinya cukup jelas setelah hampir setahun tinggal berpindah-pindah di penginapan murah Jakarta.
Paul membayar ongkos taksi, menyampirkan ranselnya yang seberat dosa masa lalu, lalu turun ke aspal yang basah. Begitu kakinya menapak di tanah, sensasi culture shock langsung menghajarnya tanpa ampun. Di sebelah kanannya, segerombolan anak kecil sedang berlarian mengejar layang-layang putus tanpa mempedulikan genangan air keruh. Di sebelah kirinya, seorang ibu-ibu berdaster batik sedang asyik mengulek sambal di teras rumahnya sambil mengobrol setengah berteriak dengan tetangga seberang jalan. Seekor ayam jantan bahkan lewat begitu saja di depan sepatunya dengan santai, seolah-olah dialah pemilik sah jalanan tersebut.
Welcome to the real Jakarta, Paul, batinnya sambil tersenyum tipis.
Ia berjalan menyusuri gang sempit itu berdasarkan rute Google Maps yang diarahkan oleh kawannya. Setelah berjalan sekitar lima puluh meter, pandangannya tertumpu pada sebuah bangunan berlantai dua yang catnya sudah agak mengelupas. Di depan gerbang besi hitamnya yang sedikit berkarat, terpasang sebuah papan kayu bertuliskan: "Kost Harmoni – Rumah Kedua Para Perantau."
"Permisi... Excuse me?" Paul mengetuk gerbang perlahan.
"Sebentar! Jangan digedor-gedor begitu, pager peninggalan almarhum suami pertama saya itu sensitif!"
Sebuah suara nyaring melengking dari arah dalam. Tak lama kemudian, muncul seorang wanita paruh baya dengan rambut disasak tinggi, mengenakan daster merah menyala yang motif macan tutulnya tampak sangat mencolok. Di belakangnya, mengekor seorang pria tua yang mengenakan kaus kutang putih dan sarung kotak-kotak, memegang sebuah obeng dengan gaya seolah sedang memegang senjata taktis.
"Astaga naga... Bule beneran, toh?" gumam wanita itu, matanya langsung melebar menatap tinggi badan Paul yang mencapai 185 sentimeter. "Pak Darto, coba liat ini. Tamu kita tingginya kayak tiang listrik depan gang. Kamu beneran Paul yang kemarin WhatsApp saya mau sewa kamar kosong di atas?"
"Benar, Ibu. Saya Paul. Nice to meet you," Paul mengulurkan tangannya dengan sopan.
"Aduh, panggil Bu Yati aja, biar akrab kayak anak-anak kos lainnya. Nggak usah formal-formal banget, pusing saya dengarnya," sahut Bu Yati, menyambut uluran tangan Paul dengan jabat tangan yang luar biasa bertenaga untuk ukuran wanita seusianya. "Nah, kalau yang di belakang saya ini Pak Darto. Suami saya yang sekarang. Orangnya emang agak gabut, kerjaannya tiap sore pura-pura benerin pager padahal aslinya cuma mau tebar pesona sama mahasiswi kos sebelah yang sering lewat."