Hujan bulan November di Jakarta tidak pernah main-main. Air tumpah dari langit seolah-olah seluruh waduk di atas sana bocor berjamaah. Bagi Jaka Pratama, cuaca seperti ini adalah berkah sekaligus kutukan yang harus ia telan bulat-bulat setiap hari.
Jaka memarkirkan motor matic-nya di bawah keteduhan pohon mangga Kos Harmoni dengan napas tersengal. Jaket ojek online hijau kebanggaannya basah kuyup, menempel ketat di tubuh atletisnya. Celana jinnya terasa seberat lima kilogram karena menyerap air hujan, sementara sandal jepit legendarisnya sudah tidak berbentuk lagi karena terendam genangan air sepanjang jalan pinggiran Jakarta.
"Bujug dah, ini hujan apa duka cita? Deras amat kagak kelar-kelar," gumam Jaka sambil melepas helmnya, lalu mengibaskan rambut cepaknya yang basah.
Hari ini benar-benar melelahkan. Sejak pagi, jalanan Jakarta seperti dikepung banjir di mana-mana. Jaka harus membelah kemacetan ekstrem, mengantar penumpang yang cerewet dan rewel, hingga menghadapi rating aplikasinya yang sempat turun karena dia menolak mengantar paket kompor gas di tengah badai. Bagi seorang ojol yang menggantungkan cicilan motor pada performa harian, hari seperti ini terasa sangat "anyep".
Saat Jaka sedang sibuk memeras ujung jaketnya di teras bawah, sosok paruh baya berkaus kutang putih muncul dari balik pintu. Pak Darto, dengan gaya santainya, memegang segelas kopi hitam hangat yang uapnya mengepul tipis.
"Gacor kagak hari ini, Jak?" tanya Pak Darto, lalu menyeruput kopinya dengan bunyi yang khas.
"Boro-boro gacor, Pak Darto. Yang ada malah gempor gue," sahut Jaka sambil mendengus. "Ini jalanan di depan situ udah semata kaki. Motor gue hampir aja mogok gara-gara nekat nerobos genangan dekat pasar. Mana penumpang terakhir gue bawelnya minta ampun, minta buru-buru tapi jalannya ditutup."
Pak Darto terkekeh, menepuk bahu Jaka dengan santai. "Ya namanya juga Jakarta, Jak. Kalau nggak macet sama banjir, namanya bukan Jakarta, tapi simulasi surga. Eh, anyway, lu udah liat si bule baru di atas belum? Dari tadi siang kagak keluar kamar. Padahal biasanya jam segini dia udah sibuk keluyuran bawa kamera gedenya."
Jaka mengerutkan dahinya. Ia mendongak, menatap ke arah koridor lantai dua. Pintu kamar nomor lima—kamar Paul—tampak tertutup rapat. Jendela kaca di sampingnya pun tidak menampakkan tanda-tanda kehidupan. Biasanya, Paul selalu membuka jendela tersebut lebar-lebar untuk menikmati udara sore atau sekadar menyapa anak-anak kampung yang bermain di bawah.
"Kagak tau deh, Pak. Apa dia lagi gabut di dalem ya?" ujar Jaka. "Atau jangan-jangan lagi pingsan? Secara kan bule kulitnya sensitif ama cuaca tropis pancaroba begini."
"Coba lu tengok gih. Tadi siang pas hujan pertama turun, gue liat dia pulang naik ojek payung sambil melukin kameranya. Badannya udah basah setengah. Takutnya kenapa-kenapa," kata Pak Darto dengan nada agak khawatir.
Rasa solider sesama anak kos langsung bergejolak di dada Jaka. Tanpa babak belas lagi, ia menaiki anak tangga beton menuju lantai dua. Langkah kakinya yang basah meninggalkan jejak-jejak air di lantai plesteran abu-abu. Begitu sampai di depan pintu kamar Paul, Jaka mengetuk kayu pintu tersebut beberapa kali.
"Mister! Paul! Lu di dalem kagak? Ini gue, Jaka!" panggil Jaka dengan volume suara yang cukup keras.
Tidak ada jawaban. Sunyi.
Jaka mengetuk lagi, kali ini sedikit lebih keras. "Woi, Bule! Jangan bikin panik napa. Lu kagak lagi semedi, kan?"
Beberapa detik kemudian, terdengar suara langkah kaki yang sangat lambat dan berat dari dalam. Pintu kayu itu akhirnya terbuka sedikit, memperlihatkan celah sempit. Dari balik celah tersebut, muncul wajah Paul Anderson yang biasanya tampan dan segar, kini tampak sangat mengenaskan. Kulitnya yang putih bersih berubah pucat pasi, hidungnya memerah, dan kedua matanya sayu berair. Yang paling dramatis, tubuh tingginya dibungkus rapat oleh tiga lapis selimut tebal bermotif bunga-bunga—selimut cadangan yang dipinjamkan Bu Yati kemarin.
"Oh... Jaka. Hi," suara Paul terdengar sangat parau dan bergetar. Gigi-giginya bergemeletuk menahan dingin.
"Bujug jaban, Mister! Muka lu udah kayak mayat di film horor! Lu ngapa begini?" pekik Jaka kaget setengah mati.
"I... I think I am freezing. Saya merasa... sangat dingin. Padahal AC sudah saya turn off," jawab Paul dengan bahasa Indonesia yang campur aduk. Ia memeluk tubuhnya sendiri, menggigil hebat seolah-olah sedang berada di tengah badai salju Boston, bukan di kamar kos non-AC berukuran tiga kali empat meter di pinggiran Jakarta yang pengap.
Jaka langsung menerobos masuk tanpa permisi. Ia menempelkan punggung tangannya ke dahi Paul. "Buset, panas banget badan lu! Ini mah bukan dingin biasa, Bule. Lu demam!"
"No, Jaka. Saya rasa... there is wind inside my body," kata Paul dengan wajah serius, mencoba menerjemahkan apa yang ia rasakan. "Ada angin yang masuk dan terjebak di dalam dada dan punggung saya. It feels so heavy."
Jaka tertegun sesaat, lalu sedetik kemudian tawanya meledak kencang hingga menggema di langit-langit kamar. "Hahaha! Angin terjebak di dalem badan? Elu mah masuk angin, Bule! Ah, elah, gaya bener bahasanya pake wind inside my body segala!"
"Masuk... angin? What is that? Angin masuk?" Paul mengerutkan dahi, tampak sangat kebingungan dengan istilah medis kearifan lokal tersebut.