ANAK KOST HARMONI

Ahmad Barnash
Chapter #3

Patungan Nasional

Ada satu hukum alam yang tidak tertulis di Jakarta: sekeras apa pun kamu bekerja, tanggal dua puluh lima ke atas adalah fase paling horor yang bisa menyatukan semua kasta sosial menjadi sederajat. Dan di Kos Harmoni, fase ini dikenal dengan nama resmi: "Darurat Militer Keuangan".

Tuti Lestari duduk bersila di atas lantai ubin teras kos yang dingin, menghadap sebuah laptop tua yang kipasnya berderit nyaring seperti sedang sekarat. Di layarnya, sebuah lembar kerja spreadsheet penuh dengan warna merah menyala—lambang defisit anggaran yang tidak bisa ditoleransi. Wajah Tuti tampak luar biasa tegang, jemarinya mengetuk-ngetuk dagu seolah-olah ia sedang memimpin rapat kabinet darurat negara.

"Nggak bisa, nggak masuk akal ini," gumam Tuti dengan logat Jawanya yang mendadak keluar kalau lagi stres. "Inflasi bulan ini bener-bener ugal-ugalan. Harga cabai naik, tarif ojol anyep, listrik kosan juga bengkak."

"Elah, Tut, serius amat muka lu. Udah kayak panitia pemilu lagi ngitung suara ilang," celetuk Jaka yang baru saja keluar dari kamarnya. Laki-laki Betawi itu hanya mengenakan kaus kutang putih lambang kebebasan dan celana pendek kain. Tangannya sibuk menggoyang-goyang botol parfum yang sudah kosong, berharap masih ada satu semprotan tersisa untuk mengusir bau matahari sore.

"Ini serius, Jak! Saldo e-wallet-ku tinggal dua belas ribu lima ratus rupiah. Sementara jatah makan malam ini belum aman," sahut Tuti ketus, matanya tidak beralih dari layar laptop. "Kamu sendiri gimana? Saldo GoPay masih ada?"

Jaka menyeringai lebar, lalu merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponselnya yang layarnya sudah retak seribu di sudut kanan atas. Ia membuka aplikasi ojek online-nya dan menunjukkan layar tersebut tepat di depan wajah Tuti.

"Nih, liat sendiri. Tiga ribu lima ratus perak! Buat beli cilok sebiji aja abangnya bakal mikir dua kali," jawab Jaka tanpa beban, malah tertawa lepas seolah kemiskinannya adalah sebuah prestasi kerja.

Tak lama kemudian, gerbang kos berderit terbuka. Mariam melangkah masuk dengan langkah kaki yang berat. Rambut bergelombangnya diikat asal-asalan ke atas, dan wajahnya yang tegas tampak ditekuk penuh emosi. Begitu sampai di teras, ia langsung melempar tas kainnya ke atas meja rotan dengan kasar.

"Kenapa lagi lu, Mar? Muka lu udah kayak singa belum dikasih makan tiga hari," tanya Jaka ngeri.

"Restoran lagi kacau! Manajemen baru banyak maunya, gaji bulan ini ditunda sampai tanggal lima depan dengan alasan 'penyesuaian sistem keuangan'. Penyesuaian mata mereka peyang!" semprot Mariam dengan suara bariton khas Bataknya yang menggelegar, membuat Pak Darto yang sedang menyapu daun mangga di sudut halaman refleks menjatuhkan sapunya karena kaget.

"Astaga, gajimu ditunda juga, Mar?" tanya Sri yang baru saja keluar membawa nampan berisi segelas teh hangat sisa kemarin. "Aku juga sama. Klien konseling minggu ini sepi banget. Orang-orang kayaknya lagi pada sehat mental semua bulan ini."

"Nah, kan! Semuanya lagi bokek berjamaah!" Tuti menepuk meja dengan dramatis, membuat semua orang di teras memandangnya. "Ini namanya krisis multidimensi Kos Harmoni. Kita harus segera mengambil tindakan penyelamatan darurat sebelum kita semua mati kelaparan secara estetik."

Mariam mendengus, lalu menyandarkan tubuhnya ke kursi rotan. "Ya udah, malam ini makan di restoran tempatku kerja aja gimana? Nanti aku minta diskon staf tiga puluh persen sama kasir depan. Makanannya enak, ada pasta, ada steak."

"Bentar, bentar!" Tuti langsung memotong dengan gerakan tangan seperti polisi lalu lintas menghalau truk tronton. Jarinya dengan cepat mengetik sesuatu di kalkulator ponselnya. "Diskon tiga puluh persen dari harga pasta premium di tokomu itu jatuhnya masih sekitar tujuh puluh ribu per porsi, Mariam! Tujuh puluh ribu itu kalau dibelikan nasi warteg di Bu Ning bisa buat kita makan bertiga selama dua hari! Ditambah es teh manis anget gratis pula!"

"Tapi kan sekali-sekali kita butuh makan mewah, Tut! Masa makan tempe mulu, lama-lama muka kita mirip ragi!" protes Mariam tak mau kalah.

"Nggak ada sekali-sekali di tanggal tua, Mariam! Prinsip keuangan itu mutlak: kalau pengeluaran lebih besar dari pendapatan, itu namanya bunuh diri finansial!" balas Tuti dengan volume suara yang mulai naik satu oktav.

Di tengah perdebatan sengit antara si sekretaris perfeksionis dan si koki idealis, Paul Anderson turun dari tangga lantai dua. Ia membawa sebuah buku catatan kecil dan mengenakan kaus oblong abu-abu yang santai. Paul menatap lingkaran diskusi darurat itu dengan pandangan heran.

"Hei... ada apa? Kenapa kalian tampak seperti... sedang merencanakan kudeta?" tanya Paul dengan dahi berkerut, mencoba memahami ketegangan di teras.

"Ini lebih parah dari kudeta, Mister," sahut Jaka sambil merangkul pundak Paul yang jauh lebih tinggi darinya. "Ini namanya tragedi perut kosong di akhir bulan. Dompet kita semua lagi 'anyep', nggak ada isinya."

Paul terdiam sejenak, lalu merogoh saku celana jinn-nya dan mengeluarkan dompet kulitnya yang tebal. "Oh, kalau itu masalahnya, no problem. Saya bisa bayar makan malam untuk kita semua. Kalian mau makan apa? Pasta? Sushi? Biar saya yang pesan lewat aplikasi."

Lihat selengkapnya