ANAK KOST HARMONI

Ahmad Barnash
Chapter #4

Rujak dan Rahasia

Minggu siang di Jakarta adalah definisi nyata dari kata "mager". Matahari bersinar begitu terik di atas kepala, melelehkan aspal gang sempit dan memaksa angin berhenti berembus. Di halaman Kos Harmoni, daun-daun pohon mangga melengkung layu, seolah-olah mereka juga butuh es kelapa muda untuk bertahan hidup.

Sri Ningsih duduk bersila di atas tikar pandan yang digelar di bawah keteduhan pohon mangga. Gadis Sunda berusia dua puluh enam tahun itu mengenakan daster kaos longgar berwarna pastel dan jepitan rambut besar yang menahan rambut hitam sebahunya agar tidak lepek oleh keringat. Di hadapannya, terletak sebuah cobek batu hitam berukuran raksasa—pinjaman dari Bu Yati yang didapatkan dengan jaminan tidak boleh retak sedikit pun.

"Hari gini kalau nggak makan yang seger-seger, bisa layu sebelum berkembang kita," gumam Sri sambil menyeka keringat di dahinya dengan punggung tangan.

Sebagai seorang terapis psikologi yang setiap hari mendengarkan benang kusut di kepala orang lain, hari Minggu adalah ritual sakral baginya untuk mengurai benang kusutnya sendiri. Dan bagi Sri, tidak ada terapi yang lebih instan selain mengulek sambal rujak dengan cabai rawit yang melimpah.

"Teh Sri! Ini jambu air sama nanasnya udah gue cuci bersih. Tapi maaf ya, nanasnya agak asem, tadi dapet diskon di abang sayur depan gang," terar Mariam yang berjalan mendekat sambil membawa baskom plastik berisi potongan buah yang segar. Koki berdarah Batak itu tampil santai dengan kaus oblong hitam besar dan celana pendek bermotif kotak-kotak.

"Aduh, nggak apa-apa, Mar. Rujak mah makin asem makin gokil. Sini, masukin sekalian," sahut Sri dengan senyum hangat khasnya.

Satu per satu penghuni kos mulai berdatangan ke halaman, ditarik oleh daya pikat magis dari suara ulekan batu yang bergesekan dengan kacang tanah goreng dan gula jawa.

Made datang membawa beberapa buah mangga muda yang langsung ia kupas dengan sangat rapi. Gerakan pisau di tangannya begitu presisi, mengupas kulit mangga tipis-tanpa membuang banyak daging buah. "Ini mangga kueni dari halaman belakang kafe Ruang Pulang. Kebetulan kemarin jatuh sendiri, pas banget buat dirujak," kata Made dengan logat Balinya yang lembut dan tenang.

"Wah, Made memang paling aesthetic kalau urusan potong-potong buah. Estetikanya dapet banget," puji Sri tulus.

"Halah, potong mangga doang pake estetika. Sini biar gue ulek kacangnya, Teh! Biar cepet kelar, cacing di perut gue udah pada demo masak ini," celetuk Omen yang tiba-tiba muncul hanya dengan mengenakan celana jersi basket, memamerkan otot lengannya yang kekar hasil latihan beban setiap pagi.

Omen merebut ulekan batu dari tangan Sri dengan percaya diri. Namun, baru dua kali ulekan, beberapa butir kacang tanah goreng justru melompat keluar dari cobek dan mendarat di atas tikar karena tenaganya yang terlalu barbar.

"Heh, Omen! Pelan-pelan dong! Itu ulek sambal, bukan lagi mukulin preman pasar!" omel Mariam sambil menepis tangan Omen dengan gemas. "Sini, biar gue aja. Tenaga debt collector lu tuh disimpan buat nagih nasabah nakal aja, jangan dipakai di dapur gue!"

"Yee, Kak Mariam mah sensi amat. Gue kan cuma mau menunjukkan aksi solidaritas protein otot," kelakar Omen sambil menyengir lebar, lalu duduk bersandar di batang pohon mangga dengan santai.

Di tengah hiruk-pikuk itu, Paul turun dari lantai dua dengan langkah ragu. Ia membawa kamera dslr-nya yang selalu siap membidik, namun matanya langsung tertuju pada cobek batu raksasa di tengah tikar. Bagi Paul, cobek batu itu tampak seperti artefak kuno dari zaman megalitikum.

"Hello... What is that giant stone plate?" tanya Paul, menunjuk cobek dengan dahi berkerut heran.

"Ini namanya cobek, Paul. Alat ulek legendaris Indonesia. Traditional blender, tapi bertenaga otot," jelas Jaka yang baru datang sambil menenteng sebotol es sirup cocopandan dingin. Ia langsung mengambil posisi duduk di sebelah Paul. "Sini duduk, Mister. Hari ini kita mau ritual ngerujak. Kulit bule lu harus cobain sensasi pedas asem yang bisa bikin lu langsung fasih bahasa Betawi."

Lihat selengkapnya