Pukul satu dini hari, dan separuh Jakarta telah menyerah pada kantuk. Namun, di dapur lantai bawah Kos Harmoni, sebuah ritual yang jauh lebih bising daripada sekadar tidur sedang berlangsung.
Aroma kopi yang pekat dan manisnya uap susu hangat mengambang di udara, mengalahkan bau tanah basah sisa gerimis sore tadi. Di depan meja dapur yang sempit, I Made Ardana berdiri dengan dahi yang berkerut dalam. Rambutnya yang sedikit panjang diikat asal-asalan ke belakang, menyisakan beberapa helai yang basah oleh keringat di pelipisnya. Di tangan kanannya, ia memegang sebuah milk jug logam dengan presisi seorang dokter bedah, sementara tangan kirinya menopang cangkir keramik hitam berisi espresso pekat.
Sreeet...
Made menuangkan aliran susu yang telah di-steam lembut ke tengah-tengah espresso, menggoyang pergelangan tangannya dengan gerakan ritmis yang cepat. Ia mencoba menggambar pola seekor burung Phoenix yang sedang mengepakkan sayap di atas busa kopi. Namun, di detik-detik terakhir ketika ia harus menarik garis tajam untuk membentuk paruh sang burung, tangannya sedikit gemetar. Aliran susu tumpah terlalu banyak.
Busa putih di permukaan cangkir itu melebar tanpa bentuk, menghancurkan estetika Phoenix yang ia bayangkan. Hasil akhirnya lebih mirip gumpalan awan mendung yang siap menurunkan hujan badai.
Made menghela napas berat, lalu meletakkan milk jug-nya ke meja dengan bunyi denting yang frustrasi. "Sial. Masih terlalu tebal mikro-foamnya," gumam Made dengan sisa aksen Bali yang mendadak terdengar kaku kalau dia sedang panik.
Kompetisi Latte Art Championship tingkat nasional tinggal dua hari lagi. Bagi Made, kompetisi ini bukan sekadar ajang pamer keahlian menyeduh kopi di depan para juri profesional. Ini adalah pembuktian besar yang ia pertaruhkan di depan ayahnya di Bali. Ia ingin menunjukkan bahwa seni kopi yang ia pilih di Jakarta bukanlah sebuah pelarian yang sia-sia, melainkan sebuah jalan hidup yang berharga. Namun, tekanan mental itu justru membuat tangannya yang biasanya tenang kini sering kali kehilangan kendali.
"Woi, Bule Bali! Masih belum kelar juga eksperimen lu? Ini susu di kulkas Bu Yati sisa seliter doang, ntar pagi kalau dia mau bikin kopi susu bisa diamuk massa kita," sebuah suara cempreng memecah keheningan malam.
Jaka melangkah masuk ke dapur dengan gaya khasnya: hanya mengenakan kaus kutang putih, celana pendek kolor bermotif garis-garis, dan handuk kecil yang dikalungkan di leher. Di belakangnya, mengekor Paul yang membawa kamera dslr-nya, serta Omen yang berjalan sambil meregangkan otot-otot lengannya yang kekar seolah baru selesai mengangkat barbel seberat seratus kilo.
"Gue baru kelar ngedit foto jalanan sore tadi, terus denger suara mesin espresso lu yang berisik dari atas," kata Paul, tersenyum tipis sambil meletakkan kameranya di atas meja makan kayu yang terletak di tengah dapur. "Bagaimana latihannya, Made? Any progress?"
Made menggeleng pasrah, menunjuk deretan cangkir kopi yang gagal di atas meja dapur. "Tangan saya kaku sekali malam ini, Paul. Setiap kali mencoba menggambar bagian sayap Phoenix, polanya selalu pecah. Padahal waktu latihan di kafe Ruang Pulang kemarin lancar-lancar saja."
Omen mendekati meja dapur, menatap cangkir kopi gagal buatan Made dengan mata menyipit. "Yaelah, Mad. Ini mah bukan Phoenix namanya. Ini mah mirip gambar otot bisep gue yang lagi robek habis latihan bench press."
"Otot kepala lu peyang!" sahut Jaka sambil menoyor pundak Omen dengan handuk kecilnya. "Ini mah mirip bentuk lele jumbo di pemancingan langganan gue. Mad, sini biar gue ajarin. Menggambar di atas kopi mah perkara gampang. Naluri seni ojol gue sangat teruji sejak zaman sering bikin rute peta di Google Maps."
Tanpa menunggu persetujuan Made, Jaka langsung menyambar sebuah cangkir baru yang sudah diisi espresso oleh Made. Ia mengambil milk jug cadangan, menarik napas dalam-dalam seolah sedang bersiap melakukan atraksi akrobatik, lalu mulai menuangkan susu hangat itu dengan gaya yang luar biasa heboh. Tubuhnya ikut bergoyang-goyang mengikuti gerakan tangannya yang ugal-ugalan.
"Perhatikan, wahai pemirsa! Jaka Pratama akan melukis Naga Langit!" seru Jaka bersemangat.
Namun, alih-alih membentuk naga, aliran susu yang dituangkan Jaka justru tumpah melebar ke mana-mana, mengotori pinggiran cangkir hingga meluap ke atas ubin meja dapur. Hasilnya adalah sebuah kubangan cairan cokelat keputihan yang sama sekali tidak memiliki nilai estetika.
"Bujug... kok malah jadi begini?" gumam Jaka, menatap karyanya dengan wajah polos tanpa dosa.
"Naga langit apaan, Jak? Itu mah lele beneran! Lele abis kena tabrak lari pula, hancur total!" tawa Omen langsung meledak kencang, membuat seisi dapur ikut bergetar.