ANAK KOST HARMONI

Ahmad Barnash
Chapter #6

Satu Meja, Tujuh Kursi

Jakarta kalau sudah urusan hujan di akhir bulan memang tidak pernah setengah-setengah. Langit di atas daerah pinggiran ibukota tampak seperti tumpahan tinta hitam yang bocor. Sejak pukul empat sore, air terjun raksasa seolah dipindahkan langsung dari langit ke atas genting-genting pemukiman warga.

Di dalam Ruang Pulang—kafe kecil berkonsep rumahan tempat Made bekerja sebagai barista—suasana terasa sangat kontras dengan badai di luar. Aroma kepulan kopi beradu hangat dengan wangi kayu basah yang terbawa angin dari sela-sela pintu kaca.

"Buset dah, ini hujan apa simulasi kiamat kecil? Kagak kelar-kelar dari tadi sore," gerutu Jaka sambil memeras ujung kaus oblongnya yang sedikit lembap. Cowok Betawi itu duduk selonjoran di atas salah satu kursi kayu, menatap ke arah luar jendela yang buram berembun. Di sampingnya, helm ojek online berwarna hijau miliknya tergeletak pasrah di lantai, tampak seperti kura-kura yang kelelahan.

"Makanya, Jak, kalau ojekan tuh pantengin ramalan cuaca. Jangan cuma mantengin instastory cewek-cewek doang," sahut Mariam dari sudut meja panjang. Tangannya sibuk mengocok tumpukan kartu Uno, bersiap membagikannya ke semua orang.

"Heh, fitnah aja lu, Medan! Gue narik demi sesuap nasi dan sebotol oli ya," bela Jaka tak mau kalah. "Lagian, siapa juga yang nyangka jalanan depan gang langsung berubah jadi Situ Gede dadakan? Banjir semata kaki begini mah motor matic gue bisa langsung mogok total."

"Sudah, sudah. Mending kita lanjut main kartunya. Daripada kalian berdua ribut terus, tensi darah saya ikut naik," potong Sri lembut sambil membetulkan letak jepitan rambutnya. Sebagai terapis psikologi yang biasanya menghadapi emosi rumit orang lain, sore ini Sri hanya ingin menikmati ketenangan bersama teman-teman kosnya.

Di meja panjang kayu jati di tengah ruangan itu, untuk pertama kalinya ketujuh penghuni Kos Harmoni benar-benar berkumpul lengkap di satu meja. Ada Jaka yang masih bau matahari bercampur air hujan, Mariam yang super berisik, Sri yang selalu menjadi penengah yang teduh, Omen dengan kaus ketat yang memamerkan otot lengannya, Tuti yang sibuk mencoret-coret buku nota keuangan kecilnya, Made yang berdiri di balik mesin kopi dengan celemek hitamnya, serta Paul yang duduk diam mengamati mereka dengan kamera dslr setianya yang mengalung di leher.

"Bule, lu jangan foto-foto mulu napa. Sini ikutan main! Biar ngerasain dikocok mentalnya sama kartu Uno-nya Mariam," panggil Omen sambil menepuk kursi kosong di sebelahnya.

Paul tersenyum lebar, memamerkan deretan gigi putihnya yang rapi. "Okay, wait. Saya ambil satu foto lagi. Momen ini... sangat bagus," jawab Paul dengan logat Indonesianya yang masih kental bercampur aksen Boston.

Klik.

Satu jepretan kamera Paul berhasil menangkap ekspresi Tuti yang sedang cemberut menatap layar ponselnya.

"Tut, lu kenapa sih merengut mulu dari tadi? Muka lu udah kayak kertas ujian matematika dapet nilai nol tahu nggak," ledek Jaka, mencoba memecah kekakuan gadis asal Solo yang duduk di seberangnya itu.

Tuti menghela napas panjang, lalu meletakkan ponselnya dengan kasar di atas meja. "Ini lho, Jak. Ibuku di kampung bolak-balik telepon terus. Tanya hal yang itu-itu aja. Aku sampai capek mau jawabnya."

"Nanya apaan emang? Soal kiriman duit?" tanya Omen polos.

"Bukan... itu..." Tuti menggigit bibir bawahnya, tampak ragu sebelum akhirnya berbisik pelan, "Beliau nanya... kapan aku mau bawa calon menantu pulang. Katanya sepupuku yang di Solo umurnya di bawahku aja udah mau lahiran anak kedua."

Seketika keheningan melanda meja panjang itu. Mariam yang tadinya mau membagikan kartu mendadak menghentikan gerakannya. Jaka tertegun, lalu berdehem canggung sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ada getaran aneh yang mendadak melintas di antara mereka, terutama ketika pandangan Jaka sempat beradu sepersekon dengan mata Tuti yang tampak murung.

Lihat selengkapnya