Pagi hari di kawasan pinggiran Jakarta selalu dimulai dengan ritual yang seragam: deru mesin motor yang dipanaskan, aroma nasi uduk hangat yang menguar dari lapak pinggir jalan, dan suara sapu lidi yang bergesekan dengan aspal basah. Namun, di teras Kos Harmoni, ada satu ritual tambahan yang jauh lebih mendebarkan bagi para penghuninya—rapat pleno tidak resmi para sesepuh kampung.
Bu Yati duduk anggun di kursi rotan sambil memegang kipas cendana. Di sebelahnya, Bu RT—istri ketua RT setempat yang terkenal memiliki radar informasi paling sensitif se-kecamatan—sedang menyesap teh manis hangat dengan tatapan mata yang tajam menyisir sekeliling kos. Di sudut lain meja, Bu Ning pemilik warteg ikut nimbrung, masih mengenakan celemek andalannya.
"Saya tuh herot, Jeng Yati," buka Bu RT sambil meletakkan cangkirnya dengan bunyi denting pelan. "Itu anak-anak kosan kamu kan mukanya pada cakep-cakep, kerjaannya juga pada jelas. Tapi kok ya betah bener menjomlo? Apa kagak kesepian apa ya, tiap malam cuma nongkrong bertujuh kayak kurcaci kurang sajen?"
"Nah! Bener banget itu, Bu RT!" sahut Bu Ning geram, tangannya sibuk membetulkan letak sanggulnya yang agak miring. "Tiap hari makan di warteg saya, yang dipesen tempe mendoan mulu. Gimana mau dapet jodoh kalau energinya energi mendoan? Harusnya kan sekali-sekali bawa gandengan, makan ayam bakar kek, biar ada peningkatan status sosial."
Bu Yati menghela napas panjang, mengipasi lehernya yang mulai gerah akibat gosip pagi hari. "Aduh, jangan ditanya deh. Saya sebagai ibu kos udah kenyang ngeliat kelakuan mereka. Si Jaka tuh, kerjaannya narik ojol mulu sampai lupa kalau umur udah pas buat naik pelaminan. Terus si Tuti, menteri keuangan kita, kepalanya isi kalkulator doang, kagak ada bumbu-bumbu asmaranya sama sekali. Kalau dibiarin, ini kosan bisa berubah jadi museum jomlo purbakala!"
Bu RT mencondongkan tubuhnya ke depan, matanya berbinar jenaka. "Bagaimana kalau kita jalankan... Operasi Jodoh?"
Sebuah konspirasi tingkat tinggi akhirnya lahir di bawah rimbunnya pohon mangga Kos Harmoni pagi itu. Tanpa sepengetahuan ketujuh anak kos yang masih sibuk dengan mimpi dan rutinitas masing-masing, takdir mereka sedang ditulis ulang oleh jemari lincah trio mak comblang kampung.
"Jak! Jaka! Sini dulu kamu!"
Jaka yang baru saja memanaskan motor Vario-nya refleks mengerem mendadak tepat di depan rumah Bu RT. Cowok Betawi itu menaikkan kaca helmnya, menatap Bu RT yang sedang berdiri di pagar rumah dengan senyuman yang teramat lebar—sejenis senyuman yang biasanya menandakan ada maunya.
"Eh, Bu RT. Ada apa nih? Tumben manggil-manggil, mau pesen ojek offline ya? Tenang, tarif tetangga damai," seloroh Jaka sambil menyengir.
"Bukan ojek, Jaka. Ini... kebetulan di rumah lagi banyak semur jengkol sama sayur asem. Kebetulan juga ada keponakan saya yang baru dateng dari Bekasi. Cantik lho, kerjanya di bank. Kamu masuk dulu gih, makan siang bareng. Mubazir kalau makanan enak didiemin," ujar Bu RT dengan nada manis yang dibuat-buat.
Bulu kuduk Jaka mendadak meremang. "Waduh, Bu, tapi saya lagi dapet orderan bolak-balik nih—"
"Kagak ada tapi-tapi! Matiin motornya, buruan masuk!" perintah Bu RT, mendadak berubah mode menjadi komandan perang.