Bagi Tuti Lestari, hari Sabtu sore adalah waktu yang sakral. Di saat penghuni kos lainnya sibuk menikmati sisa akhir pekan dengan rebahan atau jalan-jalan, Tuti biasanya mendekam di kamar dengan ritual favoritnya: mencocokkan nota belanja mingguan dengan saldo rekening. Suara ketukan tombol kalkulator fisik miliknya beradu ritmis dengan putaran kipas angin dinding yang berderit pelan.
"Tiga puluh lima ribu buat galon, dua puluh ribu buat sabun cuci piring patungan... Oke, masih ada surplus lima ribu perak," gumam Tuti puas sambil memberi warna hijau pada kolom spreadsheet di laptopnya.
Tepat ketika ia hendak menutup laptopnya, pintu kamarnya digedor dengan kekuatan yang setara dengan palu godam.
BRAK! BRAK! BRAK!
"Tuti! Neng Sri! Turun sekarang! Darurat militer kos-kosan!" suara melengking Bu Yati terdengar menembus pintu kayu kamar Tuti.
Tuti tersentak, hampir saja menjatuhkan kalkulator kesayangannya. Ia buru-buru membuka pintu dan mendapati Bu Yati sudah berdiri di koridor dengan daster motif bunga mawar elektrik berwarna neon. Di sebelahnya, Sri berdiri dengan wajah pasrah, masih memegang cangkir teh hangatnya yang setengah kosong.
"Ada apa, Bu Yati? Ada yang bocor lagi pipa airnya?" tanya Tuti panik.
"Lebih parah dari pipa bocor, Tut! Bu RT barusan telepon. Anggota arisan RT sore ini kurang kuorum! Dua orang ibu-ibu komplek mendadak izin karena harus kondangan ke Bekasi," cerocos Bu Yati sambil mengipasi wajahnya yang sudah dipenuhi bedak tebal. "Kalau sampai arisan sore ini batal dikocok, nama baik Kos Harmoni sebagai penyumbang warga teladan bisa tercoreng! Kalian berdua harus ikut Ibu sekarang juga!"
Tuti langsung mengerutkan dahi, mode pertahanan finansialnya otomatis aktif. "Bentar, Bu. Arisan? Itu kan sistem simpan pinjam konvensional tanpa bunga yang secara nilai waktu uang sebenarnya rugi kena inflasi. Lagian, saya nggak ada anggaran buat bayar uang iuran bulanan yang nggak masuk rencana keuangan saya."
Bu Yati berkacak pinggang, menatap Tuti dengan pandangan tidak percaya. "Bujug dah, Tuti! Otak kamu isinya rumus ekonomi mulu! Ini cuma lima puluh ribu sebulan, Tuti. Lagian, di rumah Bu RT menunya spesial sore ini. Ada kue sus vla vanilla, risol mayo buatan Bu Ning yang lumer itu, sama es blewah manis! Kurang ROI (Return on Investment) apa coba?"
Sri yang sejak tadi diam, mendadak meluruskan pandangannya mendengar kata "risol mayo" dan "es blewah". Sebagai penikmat ketenangan akhir pekan, Sri sebenarnya mager setengah mati. Namun, instingnya sebagai terapis psikologi juga menggelitiknya untuk melihat bagaimana dinamika sosial ibu-ibu komplek bekerja di habitat aslinya.
"Teh Tuti, sudah ikut saja. Lumayan, kita bisa sekalian cuci mata melihat perilaku mikro-sosial warga komplek. Dan... risol mayo Bu Ning memang tidak pernah gagal," bisik Sri lembut, memberikan senyuman menenangkan yang membuat benteng pertahanan Tuti perlahan runtuh.
Tuti menghela napas pasrah. "Ya sudah. Tapi saya catat ini sebagai pengeluaran tidak terduga di kolom 'Sosial Kemasyarakatan' ya."
Rumah Bu RT sore itu sudah berubah menjadi pusat distorsi suara kecamatan. Begitu Tuti dan Sri melangkahkan kaki melewati pintu masuk, telinga mereka langsung disambut oleh perpaduan suara tawa melengking, gosip ugal-ugalan, dan denting sendok yang beradu dengan mangkuk es. Ruang tamu berukuran lima kali lima meter itu dipenuhi oleh sekitar lima belas ibu-ibu yang duduk lesehan di atas karpet berbulu tebal berwarna hijau tua.
"Eh, Jeng Yati! Akhirnya dateng juga bawa pasukan muda!" seru Bu RT bersemangat. Wanita itu mengenakan kerudung instan sewarna buah naga dan bros emas berukuran raksasa di dadanya yang berkilau terkena cahaya lampu neon. "Sini, sini, Neng Tuti sama Neng Sri duduk deket saya. Aduh, seneng deh komplek kita dapet asupan daun muda. Biar nggak bosen ngeliat muka Jeng Ning melulu."
Bu Ning yang sedang sibuk mengunyah risol buatannya sendiri hanya mencibir manis. "Biarin muka saya tua, Jeng RT, yang penting risol saya tetep nomor satu di hati warga."
Tuti dan Sri duduk dengan canggung di sudut karpet, tepat di dekat meja yang dipenuhi piring-piring camilan. Bagi Tuti, suasana ini terasa seperti medan perang tak kasat mata. Ia memperhatikan bagaimana ibu-ibu di ruangan itu saling memamerkan perhiasan secara halus—seperti pura-pura membetulkan letak jilbab demi menunjukkan cincin batu permata baru di jarinya.
"Sri, lu liat deh," bisik Tuti pelan, matanya melirik ke arah ibu-ibu di seberang mereka. "Itu Bu RW dari tadi benerin poni pake tangan kanan terus. Padahal poninya kagak gerak sama sekali. Itu gelang emasnya yang mau dipamerin, ada kayaknya lima puluh gram."