Kabar kepulangan anak gadis Pak Lurah menyebar di Gang Harmoni lebih cepat daripada gosip grup WhatsApp RT yang mendadak ramai.
Nayla namanya. Kabarnya, dia baru saja menyelesaikan kuliah S1 Pertanian dari salah satu universitas negeri ternama di Bogor. Begitu lulus, alih-alih melamar kerja kantoran di gedung pencakar langit Sudirman atau Kuningan, Nayla justru memilih pulang kampung. Visinya mulia tapi bikin dahi ibu-ibu komplek berkerut: ia ingin menjalankan program pelestarian dan penghijauan di sekitar Situ Gede, danau rawa yang menjadi jantung kehidupan warga komplek.
Bagi warga Gang Harmoni, kepulangan Nayla setara dengan kedatangan bintang telenovela. Sejak hari pertamanya kembali, pos ronda tidak pernah sepi dari obrolan bapak-bapak, dan warung kelontong Bu Yati mendadak ramai oleh anak-anak muda yang pura-pura membeli rokok sebatang demi bisa melihat siluet Nayla yang sesekali lewat naik sepeda kayuh.
"Bujug dah, itu anak Pak Lurah kalau dilihat-lihat dari jauh mirip bener ama artis Korea yang sering ditonton bini gue," gumam Pak Darto sore itu, matanya menyipit menatap ke ujung gang sambil memegang sapu lidi yang dari tadi tidak digerakkan sama sekali.
Bu Yati yang tiba-tiba muncul dari balik pintu gerbang langsung menjewer kuping suaminya tanpa ampun. "Korea, Korea kepala lu peyang! Inget umur, Pak Darto! Tuh, jemuran di atas angkatin, jangan matanya aja yang gacor nyari yang seger-seger!"
Di teras lantai bawah Kos Harmoni, Jaka sedang sibuk mengelap bodi motor Vario-nya dengan kanebo setengah kering. Namun, gerakannya mendadak patah-patah ketika sesosok gadis berkaus oblong putih longgar, celana jins belel, dan topi anyaman bambu lebar melintas di depan gerbang kosan. Gadis itu menuntun sepeda keranjang yang bagian belakangnya dipenuhi oleh beberapa pot tanaman hias dan bibit pohon pelindung.
"Selamat sore, Bu Yati, Pak Darto," sapa gadis itu ramah. Suaranya terdengar sangat bening, kontras dengan bisingnya knalpot motor Jaka yang baru saja ia matikan.
"Eh, Neng Nayla! Sore, Neng! Aduh, baru pulang ngambil bibit pohon ya?" sahut Bu Yati instan berubah mode dari singa galak menjadi tetangga paling ramah sedunia.
"Iya, Bu. Ini mau dibawa ke tepi danau. Rencananya besok pagi-pagi sekali mau mulai ditanam buat daerah resapan air," jawab Nayla sambil tersenyum manis. Lesung pipit tipis di pipi kirinya langsung terlihat, membuat suasana sore yang gerah di gang itu mendadak terasa seperti berembus angin pegunungan yang sejuk.
Di dekat motornya, Jaka mendadak mematung. kanebo di tangannya jatuh begitu saja ke atas ubin teras. Cowok Betawi yang biasanya cerewet, suka nyeleneh, dan punya seribu kalimat balasan untuk semua orang itu tiba-tiba berubah fungsi menjadi tiang listrik darurat. Lidahnya mendadak kelu, dan otaknya mengalami system crash instan.
"E-eh... i-iya... sore... Mbak... eh, Neng... eh, Saudari Nayla," sapa Jaka terbata-bata dengan pelafalan yang mendadak sangat formal, seolah-olah ia sedang berhadapan dengan petugas kepolisian yang sedang melakukan razia kelayakan kendaraan bermotor.
Nayla menoleh ke arah Jaka, matanya menyipit jenaka di balik kacamata berbingkai bulat yang ia kenakan. "Sore, Mas ojol. Kemarin saya sempat lihat Mas yang bawa motor ini lewat depan kelurahan, ya?"
DEGGG. Jantung Jaka serasa melompat keluar dari dada, menggelinding ke selokan gang, lalu ditabrak lari oleh kucing liar. Ia meraba tengkuknya yang mendadak panas dingin. "I-iya, betul sekali... Saya Jaka Pratama, mitra pengemudi daring berlisensi resmi kecamatan... Eh, maksud saya, ojol biasa, Neng."
Dari arah koridor kos, Omen tiba-tiba melangkah keluar dengan kaus ketat tanpa lengan yang mengekspos otot bisepnya yang sebesar kelapa gading. Sengaja ia menaik-turunkan alisnya yang tebal, mencoba memasang wajah paling karismatik versinya.
"Wah, ada bunga desa nih sore-sore," celetuk Omen sambil bersandar di tiang teras, dadanya dibusungkan hingga batas maksimal kekuatan ototnya. "Kenalin, Neng. Nama Abang... Omen. Atlet panco tidak resmi Kos Harmoni. Kalau butuh tenaga buat cangkul tanah atau gotong pot bunga yang berat-berat itu, panggil Abang aja. Tenaga Abang setara dengan tiga mesin traktor."