Jika ada satu hari di mana kawasan pinggiran Jakarta melupakan kepenatan hidupnya, hari itu adalah Jumat malam.
Di tepi Situ Gede—danau rawa yang biasanya sepi dan hanya dihuni oleh para pemancing sabar—suasana mendadak berubah menjadi panggung festival rakyat mini yang berkilauan. Lampu-lampu pijar kuning digantung melintang di antara batang pohon ketapang, memancarkan pantulan cahaya keemasan di atas permukaan air danau yang tenang. Asap dari panggangan jagung bakar, gurihnya uap cilok, dan wangi manis dari adonan kue putu beradu di udara, menciptakan daya tarik magis yang memanggil seluruh warga untuk keluar dari rumah mereka.
Ketujuh penghuni Kos Harmoni berjalan beriringan membelah keramaian pasar malam darurat itu. Jaka berjalan di barisan paling depan, masih mengenakan celana pendek kolor kesayangannya, namun malam ini ia tampak lebih segar karena sudah mandi setelah seharian menarik ojek online.
"Bujug dah, ini rame bener! Kayak se-kecamatan tumpah ruah di sini semua," seru Jaka sambil celingukan mencari lapak jagung bakar langganannya. "Mister Paul! Lu harus cobain cilok bumbu kacang di sebelah sono. Itu ciloknya kenyal-kenyal gemes, sekali gigit langsung bikin lu lupa sama burger Amerika."
Paul, yang memegang kamera dslr-nya dengan posisi siaga, tersenyum lebar. Matanya berbinar menatap keramaian yang begitu organik. "Cilok? Spicy tapioca balls? Menarik. Saya mau coba, Jaka."
"Boleh, Mister. Tapi ntar bayarnya pake duit patungan ya, jangan gesek kartu kredit. Abangnya kagak punya mesin EDC," sahut Tuti cepat dari belakang, membuat Jaka langsung menoleh dan tertawa.
"Yaelah, Neng Tuti! Malam Sabtu ini, simpen dulu kalkulatornya napa. Sekali-sekali kita jajan tanpa mikirin inflasi riil," ledek Jaka sambil menyengir lebar.
Tuti hanya mencibir manis, namun ada gurat kelegaan di wajahnya. Setelah seminggu penuh dikepung oleh laporan keuangan kantor yang bikin migrain, angin malam Situ Gede yang sejuk perlahan-lahan mulai mengurai ketegangannya. Ia melangkah santai di samping Sri, yang malam itu tampil anggun dengan kardigan rajut berwarna pastel.
Di sudut lain area danau, tampak Nayla sedang berbincang dengan beberapa warga lokal dekat papan pengumuman program penghijauan. Begitu melihat rombongan Kos Harmoni, ia melambaikan tangannya dengan semangat.
"Hei! Teman-teman Kos Harmoni! Di sini!" panggil Nayla setengah berteriak.
Made, yang berjalan paling belakang sambil membawa buku sketsa kecilnya, mendadak melangkah lebih cepat. Ada senyum tipis yang langsung terukir di wajah cowok Bali itu saat melihat Nayla yang mengenakan jepitan rambut bermotif daun sederhana.
"Mbak Nayla, ramai sekali malam ini ya," sapa Made begitu mereka mendekat.
"Iya, Made. Setiap Jumat malam emang begini. Makanya aku sengaja bikin posko informasi kecil di sini, biar warga yang lagi nongkrong bisa sekalian tahu tentang rencana penanaman pohon besok pagi," jelas Nayla ramah. "Oh ya, besok pagi kalian beneran mau bantu, kan?"
"Jangankan nanem pohon, Neng! Besok pagi abang Omen bakal dateng paling awal bawa cangkul pribadi!" sahut Omen sambil membusungkan dadanya yang bidang, sengaja mengerlingkan matanya ke arah Sri yang langsung dibalas dengan senyum geli oleh sang psikolog.
"Bagus deh kalau gitu. Gimana kalau sekarang kita sewa bebek-bebekan kayuh di sana? Mumpung antreannya belum terlalu panjang," usul Nayla menunjuk ke arah dermaga kayu kecil tempat beberapa perahu kayuh berbentuk bebek besar sedang mengapung.
"Wah, seru tuh! Ayo!" seru Mariam bersemangat. "Kita bagi tim! Gue sama Omen. Biar tenaga kuli kami berdua bisa bikin bebeknya melesat kayak jet ski!"