Bagi generasi yang tumbuh dengan ibu jari yang tak pernah berhenti menggulir layar, ponsel pintar adalah ekstensi dari jiwa. Di Jakarta, jarak spasial antara satu kamar kos dengan kamar lainnya mungkin hanya dibatasi oleh sekat tembok tripleks setebal sepuluh sentimeter. Namun, di era digital, komunikasi sejati justru sering kali terjadi dalam ruang obrolan virtual berlatar belakang hijau tua.
Malam itu, jam dinding di koridor lantai dua Kos Harmoni baru saja melewati pukul delapan. Suasana kosan sebenarnya cukup tenang, hanya diselingi desau angin malam dan suara sayup-sayup TV dari kamar Pak Darto di lantai bawah. Namun, ketenangan fisik itu mendadak buyar ketika tujuh ponsel di tujuh kamar berbeda bergetar secara simultan dengan ritme yang sama.
Bzzzt. Bzzzt. Bzzzt.
Paul Anderson yang sedang merebahkan diri di kasur sambil mengedit foto festival Situ Gede di laptopnya, meraih ponselnya. Sebuah notifikasi pop-up muncul di layar:
Anda telah ditambahkan ke grup "Keluarga Kos Harmoni" oleh Bu Yati Kos.
Paul mengerutkan kening. Sebelum ia sempat mencerna arti nama grup tersebut, rentetan pesan instan langsung melesat masuk seperti peluru senapan mesin.
Bu Yati Kos: Selamat malam anak-anak kosan kesayangan Ibu. Berhubung sekarang zamannya sudah canggih, Ibu sengaja bikin grup ini biar kita makin gampang koordinasi. Biar makin rukun dan kekeluargaan ya! 🙏🌸✨
Detik berikutnya, Bu Yati mengirimkan sebuah stiker berukuran raksasa. Stiker itu menampilkan gambar vas bunga mawar yang berkilau-kilau dengan tulisan kuning menyala berformat 3D: "Selamat Malam, Semoga Berkah dan Sehat Selalu".
Di kamarnya, Jaka yang sedang tiduran sambil memakai koyo di pelipisnya langsung salfok. Ia buru-buru mengetik balasan dengan jempolnya yang lincah.
Jaka Ojol: Bujug dah, Bu Yati! Ini grup kosan apa grup arisan keluarga besar sih? Stikernya langsung bikin mata saya silinder sebelah, silau amat itu mawar. 😂
Bu Yati Kos: Heh Jaka! Jaga mulut kamu ya! Itu stiker Ibu dapet download susah payah dari grup pengajian kelurahan. Bagus tahu, estetik!
Mariam Kitchen: Bah, estetik dari mana jalan pikirannya, Jeng Yati? Itu warnanya norak kali, pink ketemu hijau neon. Bikin pusing tengkukku.
Sri Ningsih: Selamat malam Bu Yati, selamat malam semuanya. Terima kasih grupnya ya, Bu. Semoga bisa mempererat silaturahmi kita. 😊🙏
Omen Gym: Wah ada grup baru! Mantap Bu RT... eh Bu Kos! Sekarang kalau mau pinjam gunting kuku tinggal PC di sini aja ya.
Tuti yang baru saja selesai mandi dan sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk, menatap layar ponsel dengan dahi berkerut. Sebagai "Menteri Keuangan" tidak resmi, kepalanya langsung merancang struktur organisasi darurat agar grup ini tidak berubah menjadi tempat pembuangan sampah digital.
Tuti Lestari: Bu Yati, terima kasih grupnya. Tapi tolong ya teman-teman, agar grup ini efisien, kita sepakati beberapa aturan: 1. Dilarang mengirim informasi yang belum terverifikasi (hoaks). 2. Dilarang berisik/spam di atas jam 10 malam. 3. Dilarang mengirim stiker berlebihan. Harap dipatuhi demi ketenangan bersama.
Jaka Ojol: Waduh, Bu Sekre langsung bikin undang-undang dasar kos-kosan. Kaku amat kayak kanebo kering, Neng. Santai sedikit napa, ini kan grup santai. 😜
Tuti mendengus kesal di kamarnya. Baru saja ia hendak mengetik balasan ketus untuk Jaka, sebuah nomor asing—yang ternyata adalah nomor baru Pak Darto—mengirimkan sebuah video berdurasi lima menit.
Pak Darto Kos: Mari kita tonton bapak-bapak/ibu-ibu, khasiat luar biasa dari air rebusan daun pepaya dicampur kunyit putih untuk mencegah radiasi sinyal 5G di dalam tubuh.