Jika tanggal dua puluh lima ke atas adalah "Darurat Militer Keuangan", maka tanggal satu adalah hari proklamasi kemerdekaan dompet yang sesungguhnya.
Bagi para perantau di Kos Harmoni, aroma awal bulan selalu memiliki wangi yang khas: wangi kertas uang baru dari mesin ATM yang masih licin, notifikasi m-banking yang berbunyi merdu, dan hilangnya kerutan di dahi Tuti Lestari. Pagi itu, koridor kosan dipenuhi energi yang luar biasa positif. Jaka bernyanyi nyaring di dalam kamar mandi—meskipun suaranya lebih mirip kucing kejepit pintu—sementara Omen sibuk melakukan shadow boxing di lorong dengan senyum selebar duren petruk.
"Gajian! Gajian! Akhirnya penderitaan mendoan berakhir juga!" teriak Jaka begitu keluar dari kamar mandi dengan handuk yang dililitkan di pinggang, memamerkan bodi sawo matangnya yang segar.
"Berisik, Jak! Mandi tuh yang bersih, jangan cuma basahin rambut doang!" sahut Mariam dari arah jemuran lantai dua. "Inget ya, hari ini jadi kan kita masak-masak besar di bawah? Awas aja lu pada pura-pura amnesia pas ditagih patungan!"
"Tenang, Kak Mar! Hari ini dompet gue lagi gacor bgt! Jangankan patungan ayam, patungan beli peternakannya juga gue jabanin!" balas Jaka sombong, membuat Tuti yang sedang menyapu koridor menoleh sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Gaya bener kamu, Jak. Kemarin ditagih uang kas seribu perak aja mundurnya tiga hari," sindir Tuti manis, meskipun matanya tidak bisa menyembunyikan binar kebahagiaan karena ia baru saja mengirimkan wesel bulanan untuk keluarganya di Solo dengan aman.
Ide "Patungan Bahagia" ini sebenarnya sederhana. Alih-alih makan di restoran mahal masing-masing setelah gajian, mereka sepakat untuk mengadakan makan besar bersama di halaman Kos Harmoni. Konsepnya tetap patungan, tetapi kali ini dalam versi premium. Setiap orang diwajibkan menyumbang satu bahan makanan terbaik sesuai dengan kemampuan finansial masing-masing.
Sore harinya, halaman kosan di bawah rindang pohon mangga berubah menjadi area dapur umum yang semi-kacau.
Tikar pandan raksasa digelar. Kompor gas portabel milik Mariam diletakkan di tengah-tengah, berdampingan dengan sebuah panggangan arang darurat yang dibuat Omen dari tumpukan batu bata sisa proyek komplek. Asap tipis mulai membubung tinggi, membawa aroma margarin terbakar dan bumbu bawang yang gurih.
"Ayamnya sudah datang! Ayam segar kualitas super se-kecamatan!" seru Jaka yang baru datang memarkirkan motor Varionya dengan gaya heboh. Ia menenteng dua ekor ayam utuh yang sudah dibersihkan dari pasar induk.
"Bagus, Jak. Sini biar gue potong-potong," sahut Mariam sigap. Sebagai koki profesional, gerakan pisau Mariam di atas talenan kayu jati tampak sangat mengagumkan. Hanya dalam waktu tiga menit, dua ekor ayam itu sudah terbagi menjadi bagian-bagian presisi, siap direndam bumbu kuning andalannya.
Omen berdiri di dekat panggangan arang dengan kipas sate dari anyaman bambu. Wajahnya yang gelap dipenuhi abu arang hitam, tetapi ia tetap menyanyi dengan suara baritonnya yang merdu, membawakan lagu cinta khas Ambon sambil sesekali menggoyangkan pinggulnya mengikuti irama.
"Neng Sri, coba liat ini Abang bakar satenya pakai rasa sayang. Dijamin dagingnya empuk selembut sutra," goda Omen saat Sri melintas membawa sebaskom sayuran segar.
Sri hanya tertawa kecil, pipinya merona merah. "Iya, Bang Omen. Tapi awas satenya jangan sampai gosong hitam ya, nanti terapinya bukan terapi psikologi lagi, tapi terapi obat maag."
Tuti duduk di sudut tikar, sibuk memotong buah-buahan untuk es campur. Kali ini, ia menyumbang melon, semangka, cincau, dan susu kental manis premium—bukan versi promo buy one get one seperti biasanya. Ia tampak sangat menikmati perannya, sesekali matanya melirik ke arah Jaka yang sedang repot membantu Omen menghidupkan bara arang yang mogok ditiup angin.