Bagi sebagian besar perantau di ibukota, stasiun kereta api menjelang akhir pekan adalah gerbang menuju kebebasan. Bau minyak telon, aroma kopi instan dari kios peron, dan deru mesin lokomotif bertenaga diesel selalu berhasil menerbitkan senyum di wajah-wajah lelah yang merindukan rumah.
Namun bagi Tuti Lestari, Stasiun Pasar Senen sore itu terasa seperti lorong waktu menuju ring tinju.
"Nih, tas lu, Tut. Berat bener dah, lu pulang kampung apa mau pindahan dinas militer?" gerutu Jaka sambil meletakkan tas ransel kanvas kelabu milik Tuti ke atas bangku peron.
Cowok Betawi itu mengusap keringat di dahi dengan ujung jaket ojolnya yang masih berbau polusi udara jalanan Salemba. Demi memastikan sang "Menteri Keuangan" kosan tidak telat mengejar kereta Senja Utama Solo, Jaka rela membelah kemacetan ekstrem jam pulang kantor tanpa memungut ongkos sepeser pun.
Tuti merapikan letak kardigan rajutnya, lalu menatap Jaka dengan senyum tipis yang dipaksakan. "Ini isinya oleh-oleh buat Ibu sama Bapak, Jak. Ada daster buat Ibu, sarung baru buat Bapak, sama beberapa titipan kue kering dari Kak Mariam. Makanya berat."
"Yaelah, baik bener lu jadi anak," puji Jaka tulus, lalu menyengir lebar hingga matanya menyipit. Ia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana jinsnya, bergoyang canggung di atas tumit sandalnya. "Inget ya, Tut. Di Solo jangan lama-lama. Kosan sepi kagak ada yang nagihin duit kas pake rumus Excel. Si Omen juga jadi bebas makan mendoan tanpa denda."
Tuti tertawa kecil. Namun, tawa itu tidak bertahan lama. Gurat kecemasan yang samar kembali menggelayuti sepasang mata bulatnya. Jaka, dengan instingnya yang tajam sebagai pengendara jalanan yang biasa membaca navigasi, langsung menangkap perubahan ekspresi tersebut.
"Lu... kenapa, Tut? Kok dari tadi muka lu kaku bener, kayak rem cakram motor yang belum dikasih oli?" tanya Jaka dengan nada suara yang melunak, kehilangan selera bercandanya yang biasanya ugal-ugalan.
Tuti menghela napas panjang, menatap rel kereta api yang membentang lurus membelah senja Jakarta yang abu-abu. "Aku... cuma agak males denger basa-basi keluarga di sana nanti, Jak. Sepupuku, Sekar, usianya dua tahun di bawahku. Dan besok dia nikah."
Jaka terdiam sejenak. Ia paham betul arah pembicaraan ini. Sebagai sesama anak perantauan berusia pertengahan dua puluh, pertanyaan "Kapan?" adalah teror mental yang lebih mengerikan daripada dikejar penagih utang leasing.
"Ah, biasa itu mah, Tut. Orang kampung kan emang hobi bikin sensasi," hibur Jaka, mencoba menepuk bahu Tuti dengan canggung sebelum buru-buru menarik tangannya kembali. "Lu bilang aja, pacar lu lagi sibuk narik ojol demi ngumpulin modal sewa helikopter buat lamaran. Biar pada bungkem mulutnya."
Senyum Tuti kali ini terasa sedikit lebih nyata. "Ada-ada aja kamu, Jak. Ya udah, kereta aku udah mau jalan. Makasih ya udah mau anterin."
"Sip. Hati-hati di jalan, Neng Sekretaris. Kabarin kalau udah sampai Solo!" teriak Jaka setengah berteriak di tengah bisingnya pengumuman peron, melambaikan tangan saat Tuti mulai melangkah masuk ke dalam gerbong kereta.
Saat kereta perlahan bergerak meninggalkan stasiun, Tuti menempelkan dahinya ke kaca jendela yang dingin. Di luar, siluet gedung-gedung tinggi Jakarta perlahan-lahan bergeser, digantikan oleh hamparan sawah dan kegelapan malam pulau Jawa yang sunyi. Tuti memejamkan mata, bersiap menghadapi badai ekspektasi yang menantinya di ujung rel.
Rumah masa kecil Tuti di sudut kota Solo adalah definisi dari ketenangan yang bersahaja. Dindingnya bercat putih gading yang mulai memudar, dihiasi foto-foto keluarga berbingkai kayu jati tua. Bau harum teh melati hangat yang diseduh dengan gula batu selalu menyambut siapa saja yang datang melintasi pintu ukir depannya.
Namun sore itu, rumah tersebut sudah berubah menjadi sarang lebah yang bising. Kerabat dari berbagai daerah berkumpul, sibuk menyiapkan hantaran, memotong janur, dan membicarakan detail upacara pernikahan Sekar yang akan digelar besok pagi.