Jakarta menjelang pertengahan bulan November mendadak terasa seperti kota mati yang kehilangan denyut nadinya. Arus mudik singkat—atau sekadar libur bersama yang dimanfaatkan anak-anak rantau untuk menengok akar mereka—membuat terminal bus, stasiun kereta, dan bandara dipadati lautan manusia. Mereka semua membawa misi yang sama: pulang ke tempat di mana masa kecil mereka disimpan dengan rapi.
Di gerbang besi Kos Harmoni yang sedikit berkarat, hiruk-pikuk perpisahan sementara itu berlangsung rusuh.
"Inget ya, lu pada! Balik dari kampung jangan cuma bawa badan doang. Kalau sampai kagak ada oleh-oleh di tangan, gerbang kosan gue gembok dari dalem!" teriak Jaka sambil membantu menaikkan tas jinjing besar milik Mariam ke atas taksi online yang sudah menunggu di depan gang.
"Bah! Cerewet kali lu, Jaka! Belum pun kaki gue menginjak Bandara Kualanamu, udah lu tagih oleh-oleh. Ntar gue bawain lu durian Ucok yang masih utuh sama kulit-kulitnya, biar lu kupas pake gigi!" semprot Mariam dengan suara Bataknya yang menggelegar, membuat sopir taksi di dalam mobil refleks tersenyum ngeri.
Sri yang berdiri di samping Mariam hanya tertawa lembut, membetulkan letak tali tas ranselnya. "Saya duluan ya, teman-teman. Travel ke Bandung-nya sudah mau jalan dari depan komplek. Jaka, Paul, tolong jagain kosan ya selama kami kosong."
"Aman, Teh Sri! Kosan aman terkendali di bawah pengawasan ojol berlisensi," sahut Jaka sambil memberikan hormat dua jari yang tengil.
Satu per satu dari mereka akhirnya melangkah pergi membelah jalanan ibukota yang mulai lengang. Made sudah lebih dulu berangkat ke bandara sejak subuh tadi untuk mengejar penerbangan paling awal ke Denpasar, sementara Omen membawa ransel militernya menuju pelabuhan udara untuk penerbangan panjang ke Ambon. Tuti pun, seperti yang mereka tahu dari grup WhatsApp, sudah lebih dulu merasai dinginnya pelukan keluarga di Solo sejak dua hari lalu.
Kini, di bawah rindang pohon mangga Kos Harmoni yang mendadak sunyi, hanya tersisa Jaka dan Paul.
Paul menatap halaman kos yang kosong dengan kamera dslr menggantung pasrah di lehernya. Untuk pertama kalinya sejak ia menapakkan kaki di Gang Harmoni, ia merasakan keheningan yang teramat asing merayap masuk ke dalam dadanya. Di negaranya, keheningan adalah privasi yang mahal. Namun di sini, di tengah-tengah manusia Indonesia yang biasanya bising, keheningan justru terasa seperti sebuah kehilangan.
Kampung halaman, bagi setiap perantau, selalu memiliki wajah ganda: ia adalah tempat paling hangat sekaligus tempat yang paling keras menunjukkan perubahan zaman.
Di sudut Jakarta yang lain—daerah perbatasan Tangerang-Bogor tempat keluarga besarnya bermukim—Jaka Pratama melangkah menyusuri gang yang dulu dipenuhi pohon rambutan dan empang pemancingan. Kini, pemandangan hijau itu telah rata dengan tanah, digantikan oleh barisan dinding batako abu-abu dari kompleks perumahan kluster murah yang berhimpitan.
Jaka menghentikan motor Varionya di depan sebuah rumah betawi beranda rendah dengan cat hijau daun yang mulai memudar. Di teras, seorang wanita paruh baya berkerudung instan sedang sibuk menyiram pot-pot tanaman hias di dalam ember bekas cat tembok.
"Nyak!" panggil Jaka, suaranya mendadak melunak, kehilangan semua gaya songong khas ojol jalanan Sudirman.
Enyak—panggilan sayang Jaka untuk ibunya—menoleh. Begitu melihat sosok anak laki-laki tunggalnya berdiri di sana dengan wajah cemong polusi, senyuman hangat langsung terukir di wajahnya yang dihiasi kerutan-kerutan halus.
"Masya Allah, Jaka! Lu pulang kagak bilang-bilang Nyak!" seru Enyak, langsung meletakkan gayung airnya dan memeluk Jaka erat-erat. Aroma wangi minyak telon dan bedak dingin khas ibu-ibu kampung langsung merengkuh indra penciuman Jaka, meluruhkan semua kepenatan aspal Jakarta yang ia telan setiap hari.
"Kangen Nyak lah, masa nunggu lebaran mulu baru pulang," sahut Jaka sambil menyengir, mencium punggung tangan ibunya dengan takzim.
Malam itu, di bawah pendar lampu neon teras yang bergoyang ditiup angin, Jaka duduk bersila di samping Nyak sambil menikmati sepiring semur jengkol manis-gurih dan sayur besan buatan ibunya. Namun, di sela-sela obrolan mereka, mata Jaka sesekali menatap ke arah luar pagar, ke arah proyek pembangunan apartemen bersubsidi yang jaraknya hanya beberapa puluh meter dari rumah mereka. Deru mesin paku bumi terdengar sayup-sayup membelah kesunyian malam.
"Tanah empang sebelah udah lunas dibayar pengembang, Jak," ujar Nyak pelan, menyadari arah pandangan anaknya. "Nyak sebenernya sedih, tapi ya gimana. Tetangga-tetangga kita udah pada pindah ke daerah parung. Katanya di sini udah kagak cocok buat beternak atau nanem padi."