ANAK KOST HARMONI

Ahmad Barnash
Chapter #15

Oleh-Oleh

Jika ada satu hal yang bisa mengubah meja kayu tua Kos Harmoni menjadi museum peta kuliner Nusantara dalam waktu kurang dari satu jam, hal itu adalah kepulangan anak-anak perantau dari kampung halaman.

Minggu sore itu, keheningan panjang yang sempat merajai Gang Harmoni selama beberapa hari mendadak sapu bersih. Pintu gerbang besi yang berkarat berderit tanpa henti, disusul suara derak roda koper, tawa melengking, dan bau berbagai bumbu khas Nusantara yang beradu liar di udara teras.

"PERMISI KELUARGA BESAR! ORANG MEDAN DATANG BAWA AMUNISI KALORI TINGGI!"

Suara Mariam menggelegar dari depan gerbang, memecah ketenangan sore. Gadis Batak itu melangkah masuk dengan gaya bak pahlawan pulang dari medan perang. Di kedua tangannya, tergantung empat kantong plastik besar berisi kotak-kotak Bika Ambon kuning keemasan, beberapa bungkus Teri Medan garing bumbu balado, dan sekotak Lapis Legit wangi spekoek.

"Bah! Senangnya hatiku liat muka kalian lagi!" seru Mariam sambil membanting tasnya ke atas meja kayu. "Paul! Jaka! Sini lu pada, bantu angkut! Ini barang bawaan gue udah kayak muatan kapal kargo!"

"Bujug dah, Kak Mar! Lu mudik apa mau buka cabang restoran Medan di teras?!" cerocos Jaka yang muncul dari balik dapur dengan celana pendek kolornya.

Jaka—yang tanah kampungnya di Tangerang-Betawi hanya sejengkal dari Jakarta—sebenarnya sudah kembali sejak kemarin malam. Di atas meja, ia sudah meletakkan dua boks Roti Buaya mini dan seperangkat Dodol Betawi wangi wijen bungkus daun pisang buatan ibunya.

Tak lama kemudian, sebuah mobil travel berhenti di mulut gang. Sri turun dengan anggun, menenteng keranjang anyaman bambu berisi Brownies Kukus, Peuyeum Bandung, dan Kue Lapis Legit yang dibungkus rapi. Senyum lembutnya terkembang begitu melihat teras kosan sudah ramai.

"Assalamu’alaikum, semuanya. Aduh, rindu banget sama kehebohan kosan ini," sapa Sri hangat, langsung menjabat tangan Bu Yati yang mendadak muncul dari dalam.

"Wa’alaikumsalam, Neng Sri! Aduh manisnya anak Ibu," sahut Bu Yati girang. Daster motif bunga tulip barunya melambay-lambai saat ia langsung menggeledah isi keranjang Sri. "Mana peuyeumnya? Wah, pas banget ini buat temen minum teh Pak Darto nanti malam."

Omen masuk berikutnya, berjalan tegap memamerkan ransel besarnya. Dari dalam ransel, cowok Ambon itu mengeluarkan kantong-kantong berisi Kacang Botol, Kue Bagea kelapa yang keras namun renyah, serta Halua Kenari manis yang legit.

"Neng Sri, ini khusus Abang bawain dari pantai Ambon. Manisnya persis kayak senyuman Neng Sri kalau lagi nggak nahan kantuk," goda Omen sambil mengerlingkan mata, yang langsung disambut sorakan "Huekkk!" serempak dari Mariam dan Jaka.

Made tiba paling akhir dari arah stasiun, membawa tas ransel kanvas dan sebuah kotak kardus sedang. Cowok Bali itu meletakkan boks berisi puluhan bungkus Pie Susu asli Denpasar dan beberapa bungkusan biji kopi arabika Kintamani beraroma asam segar yang khas.

"Selamat sore, teman-teman," sapa Made dengan suara lembutnya.

Terakhir, pintu gerbang berderit pelan memperlihatkan sosok Tuti. Gadis Solo itu berjalan pelan menuntun tas roda kecilnya. Di tangannya, ia memegang dua besek bambu berisi Gudeg basah lengkap dengan krecek pedas manis dan beberapa kotak Bakpia kacang hijau yang masih hangat dari oven Solo.

"Sore..." bisik Tuti singkat. Wajahnya yang mungil tampak agak pucat, dan lingkaran hitam tipis membingkai kedua matanya yang biasanya tajam berbinar.

"Eits! Menteri Keuangan kita udah balik!" panggil Jaka bersemangat, melambaikan tangannya dari tikar. "Sini, Tut! Gabung! Ini meja udah berubah jadi festival kuliner pasar malam se-Nusantara!"

Tuti tersenyum tipis—sebuah senyuman yang irit dan kentara sekali dipaksakan demi tidak merusak euforia teman-temannya. Ia meletakkan besek gudegnya di tengah meja, lalu duduk perlahan di sebelah Sri.

Lihat selengkapnya