ANAK KOST HARMONI

Ahmad Barnash
Chapter #16

Kondangan

Ada satu tempat di mana seluruh strata sosial, gengsi perantauan, dan standar kesuksesan warga Jakarta diuji sampai batas maksimal: gedung serbaguna hajatan pernikahan pada hari Minggu siang.

Hari itu, gedung serbaguna kelurahan yang terletak di ujung jalan utama komplek disulap menjadi lorong kemewahan darurat. Kain siling warna krem dan merah marun melengkung megah di langit-langit, sementara suara musik dangdut koplo yang diputar dari panggung audio berkekuatan ribuan watt membumfortelinga hingga radius lima ratus meter.

Di gerbang masuk gedung, rombongan Kos Harmoni berjalan beriringan dengan penampilan yang teramat kontras dari hari-hari biasa.

Omen melangkah paling depan, mengenakan kemeja batik lengan panjang motif mega mendung yang ukurannya terlampau ketat di bagian dada. Setiap kali ia bernapas, kancing kemeja bagian atasnya tampak berjuang hidup dan mati menahan hisapan otot dada sang debt collector.

"Men, lu bernapas yang pelan-pelan napa! Itu kancing lu kalau lepas bisa melesat nembak dahi pengantin lho!" ledek Jaka yang berjalan di sebelahnya.

Jaka sendiri tampil beda dengan kemeja batik Betawi warna hijau terang yang dipadukan dengan celana bahan hitam rapi. Walaupun tetap memakai sepatu kets karena ogah pakai sepatu pantofel kaku, tatanan rambut cepaknya yang klimis berbau minyak rambut kemiri membuat ketampanan lokalnya naik dua tingkat.

Di barisan perempuan, Sri tampil anggun dalam balutan kebaya encim warna salem yang dipadu kain batik pesisir. Mariam mengenakan gaun tenun tegas khas Sumatera Utara, sementara Tuti tampil sangat manis dengan kebaya kutubaru polos berwarna biru pastel dan rambut yang disanggul modern sederhana.

"Mister Paul, lu jangan sampai kepisah dari kita ya," ujar Mariam sambil merapikan selendangnya. "Di dalam entar kayak hutan belantara. Orang-orang kalau udah denger aba-aba prasmanan dibuka, sikut-sikutan udah kayak suporter bola!"

Paul, yang mengenakan kemeja batik motif parang pemberian Bu Yati dan mengalungkan kamera dslr-nya, mengangguk patuh. "Saya siap, Kak Mar. Saya sudah sarapan sedikit biar tidak pingsan di antrean makanan."

Namun, belum sempat Paul melangkah melewati meja penerima tamu untuk mengisi buku tamu dan memasukkan amplop, Bu Yati yang tampil heboh dengan sanggul sasak setinggi gedung DPR dan kebaya merah cabai berkilau sequin langsung menyambar lengan jangkung Paul.

"Nah! Paul! Pas banget kamu bawa kamera gede!" seru Bu Yati dengan mata berbinar-binar. "Ibu pengantin itu temen arisan Ibu. Katanya fotografer sewaan gedungnya mendadak mules di kamar mandi. Kamu bantu fotoin keluarga besar di pelaminan sebentar ya! Nanti Ibu bisikin ke kateringnya biar kamu dapet porsi kambing guling dua kali lipat!"

Paul terbelalak kaget. "Wait, what? Tapi saya tamu, Bu Yati..."

"Kagak ada tamu-tamuan! Di Indonesia, keahlian bule harus dimanfaatkan demi kemaslahatan warga!" potong Bu Yati tanpa ampun, langsung menyeret Paul yang pasrah menuju panggung pelaminan di depan ratusan mata undangan.

Jaka dan Omen tertawa terpingkal-pingkal melihat Paul yang mendadak berubah profesi dari fotografer internasional menjadi tukang foto hajatan kampung.

"Kasian si Bule," kekeh Jaka. "Ya udah, yuk kita serbu area vital: panggung katering!"

Arena prasmanan kondangan siang itu adalah arena gladiator emosi. Asap dari pondokan sate ayam, aroma gurih sup kimlo, dan keharuman kambing guling bakar memanggil-manggil selera makan.

Mariam melangkah mendekati meja prasmanan utama dengan mata menyipit penuh analisis. Sebagai seorang koki profesional, ia tidak bisa menahan naluri kritisnya. Ia mengambil sendok, mencicipi sedikit kuah rendang di piringnya, lalu mendengus kecut.

"Bah! Ini rendang apa sisa rebusan bumbu sasetan?" gerutu Mariam kencang, membuat ibu-ibu di sebelahnya refleks menoleh. "Dagingnya keras kali! Kelapanya kurang sangrai ini! Kalau resto tempatku kerja nyajiin rendang kayak gini, udah kutendang koki utamanya ke selokan!"

"Hush! Mariam, pelan-pelan suaranya! Ini makanan gratis, jangan dicela," bisik Sri sambil menyenggol lengan Mariam lembut, lalu mengemas beberapa sendok salad buah ke piringnya sendiri.

Sementara itu di dekat pondokan kambing guling, Made dan Omen berdiri mengantre. Di tengah antrean, seorang pemuda berjas rapi dengan jam tangan emas mencolok mendadak menepuk bahu Made.

"Lho? Made? Made Ardana, kan?" sapa pemuda itu dengan nada suara kaget yang sengaja dikeras-keraskan.

Made berbalik. Senyum tipisnya yang sopan mengembang. "Eh, Cokorda Krisna. Halo, Cok."

Lihat selengkapnya