ANAK KOST HARMONI

Ahmad Barnash
Chapter #17

Tidak Semua Viral Itu Baik

Dunia digital adalah tempat yang aneh sekaligus kejam. Di era Generasi Scroll, butuh waktu bertahun-tahun bagi seseorang untuk membangun reputasi sebagai manusia baik-baik, tetapi hanya butuh potongan video berdurasi lima belas detik tanpa konteks untuk menghancurkannya hingga berkeping-keping.

Senin pagi di Kos Harmoni yang biasanya riuh oleh deru mesin motor dan tawa pagi hari mendadak berubah menjadi tegang bagaikan markas komando perang.

Jaka duduk bersandar di kursi kayu teras bawah, masih mengenakan jaket hijau ojolnya yang lecek. Namun, tidak ada binar cengengesan di wajah sawo matangnya pagi ini. Ponsel di tangannya bergetar tanpa henti—layarnya dipenuhi oleh ratusan notifikasi pesan masuk, caci maki netizen di kolom komentar, dan peringatan sistem dari aplikasi ojek online yang menyatakan bahwa akun kemitraannya ditangguhkan (suspend) sementara waktu.

"Bujug jaban... ini orang-orang pada kesambet apaan sih?" gumam Jaka lirih, suaranya terdengar sangat serak dan bergetar.

Di sekeliling meja, ketujuh sahabat dan Bu Yati berkumpul melingkar dengan wajah tegang.

Di layar ponsel Tuti, sebuah video singkat yang diunggah oleh akun gosip berpeningkat tinggi sedang berputar ulang. Video itu diambil dari sudut pandang penumpang. Di dalamnya, terlihat Jaka sedang berdiri di pinggir jalan raya yang bising, menunjuk-nunjuk wajah seorang pemuda necis dengan wajah memerah padam dan nada suara berteriak kencang:

"Lu punya otak dipakai kagak?! Mau mati konyol lu di jalanan?!"

Video itu dipotong tepat di detik tersebut, lalu diberi judul provokatif dengan huruf kapital tebal: "VIRAL! DRIVER OJOL AROGAN MENGAMUK DAN MENGANCAM PENUMPANG CUMA GARA-GARA SALAH RUTE! MOHON DITINDAK FIRMA OJOL!"

Komentar di bawah unggahan itu sudah menembus angka lima belas ribu balasan. Isinya adalah lautan kebencian: "Driver kurang edukasi, catat plat nomornya!" "Kampungan banget, boikot aja driver begini!" "Sok jagoan, miskin tapi tengil!"

"Bangsat kali yang ngedit video ini!" semprot Mariam dengan suara Bataknya yang meledak-ledak, memukul meja kayu hingga cangkir-cangkir kopi bergetar. "Cuma dipotong bagian Jaka marahnya doang! Siapa yang ngunggah ini, Jak?! Biar kucari rumahnya, kucincang paha orang itu pake pisau dapurku!"

"Sabar, Mar! Lu jangan ikutan emosi!" tahan Omen sambil memegang lengan Mariam, meski urat-urat di leher Omen sendiri sudah mengeras menahan geram.

Sri mengelus punggung Jaka yang membungkuk lesu. "Jak... coba cerita pelan-pelan ke kita. Kejadian sebenarnya kemarin sore gimana?"

Jaka menarik napas panjang yang terasa sangat berat, mengusap wajahnya yang cemong. "Kemarin sore gue dapet orderan searah Kemang. Penumpangnya cowok kuliahan gitu, naik motor gue sambil ngerokok di jok belakang. Udah gue tegur baik-baik dari awal, gue bilang, 'Mas, tolong matiin rokoknya, abunya terbang kena mata gue sama pengendara lain'."

Jaka berhenti sejenak, menelan ludah yang terasa pahit. "Tapi itu cowok malah ngelawan. Dia bilang, 'Suka-suka gue lah, gue kan bayar! Lu cuma tukang ojek kagak usah banyak atur!'. Pas di perempatan lampu merah, percikan abu rokoknya terbang ke belakang dan nyaris ngebakar jaket anak kecil yang lagi dibonceng ibunya di sebelah motor gue. Anaknya sampai nangis jerit-jerit ketakutan! Ya gue emosi lah! Gue pinggirin motor, gue matiin rokoknya paksa. Tapi yang direkam sama dia cuma pas gue bentak dia doang! Bagian dia maki-maki gue sama bahayain anak kecilnya disimpen rapat-rapat!"

Mendengar penjelasan jujur Jaka, dada seisi teras bergemuruh oleh rasa ketidakadilan yang membakar.

"Tuh kan! Bener kata gue! Dasar manusia pansos bajingan!" maki Mariam murka.

"Masalahnya sekarang," potong Tuti dengan nada tegas namun tenang, meski jemarinya mengetik cepat di laptopnya, "algoritma internet tidak peduli pada kebenaran. Algoritma cuma peduli pada sensasi. Rating Jaka di aplikasi langsung anjlok dari 4.9 ke 3.2 karena diserbu bintang satu massal oleh netizen yang bahkan nggak ada di lokasi. Kalau akun Jaka di-suspend permanen... dia nggak bisa narik lagi."

Keheningan dingin merayap. Bagi Jaka, kehilangan pekerjaan ojol bukan sekadar soal tengsin atau gengsi. Itu berarti cicilan motor Varionya akan menunggak, dan yang paling menakutkan: kiriman uang bulanan untuk Enyak di kampung Betawi akan terhenti.

Tiba-tiba, dari arah pintu gerbang depan, terdengar riuh suara langkah kaki dan bisik-bisik tetangga. Pak RT melangkah masuk ke halaman kosan dengan wajah cemas, didampingi oleh dua orang pemuda lokal yang memegang ponsel dengan lampu kilat menyala—beberapa kreator konten berita kampung yang ingin mencari kejelasan.

Lihat selengkapnya