Hujan malam itu turun seperti curahan kemarahan yang dipendam berbulan-bulan. Petir menyambar bergantian di atas langit pinggiran Jakarta, disusul deru angin kencang yang membuat pohon mangga tua di halaman Kos Harmoni bergoyang hebat.
Tepat pukul sembilan malam, sebuah dentuman keras terdengar dari arah tiang listrik utama gang.
JEK!
Seketika, seluruh cahaya terenggut. Kegelapan pekat menyergap Kos Harmoni. Jaringan sinyal seluler di ponsel mereka mendadak meredup hingga tersisa satu garis tipis yang tak berguna, memutus total akses menuju dunia maya yang biasanya bising.
Di teras bawah yang terlindung dari cipratan air hujan, Bu Yati berjalan pelan sambil membawa nampan berisi sebuah teko kaleng berisikan teh manis hangat, beberapa cangkir seng, dan lima batang lilin putih yang sudah dinyalakan. Ia meletakkan lilin-lilin itu di tengah meja kayu panjang, menciptakan lingkaran cahaya temaram yang menari-nari memantulkan bayangan ketujuh anak kos yang sedang duduk berkumpul.
"Aduh, mati lampu ditambah hujan badai begini mah komplit sudah penderitaan warga," gumam Bu Yati sambil mengibaskan daster katunnya, lalu duduk di ujung bench kayu. Ia menatap satu per satu wajah anak-anak kosnya. "Tapi ya... kalau listrik mati begini, HP kagak ada sinyal, biasanya orang-orang mendadak jadi jujur."
Jaka yang duduk selonjoran memeluk lututnya tersenyum tipis. "Jujur apaan, Bu Yati? Jujur kalau lagi bokek?"
"Bukan cuma bokek, Jak," sahut Bu Yati lembut, matanya yang mulai dikelilingi kerutan menatap dalam ke arah lingkaran cahaya lilin. "Jujur sama diri sendiri. Sama temen-temen di sekeliling kalian. Dari kemarin Ibu perhatiin, kalian semua ini mukanya pada senyum, pada ketawa-tawa... tapi matanya pada kosong. Kayak orang lagi pake topeng kramat."
Keheningan seketika melingkupi teras. Hanya terdengar gemericik air hujan yang menghantam genting dan desau angin malam. Candaan yang biasanya mudah meledak dari mulut Omen atau Jaka mendadak tertahan di udara.
Sri—sang terapis yang biasanya selalu menjadi pendengar dan penenang—meletakkan cangkir tehnya perlahan. Ia menunduk, meremas jemari tangannya yang saling bertaut di atas paha.
"Bu Yati bener..." bisik Sri. Suaranya yang biasanya halus dan menenangkan kini terdengar bergetar rapuh. "Saya... saya sebenernya udah tiga bulan ini nggak pernah bener-bener tidur nyenyak."
Semua mata tertuju pada Sri.
Sri mendongak, mencoba tersenyum, namun setitik air mata meluncur melewati pipinya. "Tiap hari di klinik, saya dengerin orang-orang cerita tentang depresi mereka, keinginan mereka buat menyerah, rasa sakit mereka. Saya harus kelihatan kuat, bijaksana, dan punya jawaban buat semua orang. Tapi begitu balik ke kamar kos ini... saya merasa hampa. Saya burnout parah. Saya takut... suatu hari nanti saya sendiri yang tenggelam sama beban emosi orang lain, tapi saya nggak tahu harus minta tolong ke siapa."
Mariam yang duduk di sebelah Sri langsung merangkul bahu sahabatnya itu erat-erat. Gadis Batak yang dikenal paling keras dan galak itu menghela napas panjang, meluruhkan pertahanannya sendiri.