Malam pemadaman listrik di tengah badai hujan telah berlalu dua hari yang lalu. Jejak lilin yang meleleh di atas meja kayu teras bawah sudah dibersihkan oleh Bu Yati, namun rasa hangat yang tercipta dari pengakuan tulus ketujuh perantau itu masih menyisakan getaran lembut di dada masing-masing.
Pagi itu, hari Selasa bergulir seperti biasa. Sinar matahari pagi menerobos sela-sela daun pohon mangga tua, memantulkan pendar keemasan di ubin teras. Suara klakson motor Jaka yang dipanaskan di halaman beradu dengan aroma tumis bawang putih dari Dapur Umum tempat Mariam sedang menyiapkan sarapan.
Pukul delapan pagi, ketika sebagian besar penghuni kos sudah berada di jalan menuju tempat kerja atau sibuk dengan rutinitasnya, ponsel pintar di saku masing-masing bergetar bersamaan.
Bzzzt. Bzzzt.
Grup WhatsApp "Keluarga Kos Harmoni" kembali menyala.
Bu Yati Kos: (Foto)
Foto yang dikirim Bu Yati menampilkan lembaran kertas struk tagihan listrik kosan bulan ini yang kusut, berdampingan dengan foto Pak Darto yang sedang tertidur lelap di kursi goyang dengan mulut sedikit menganga dan kacamata baca katarak miring di hidungnya.
Jaka Ojol: Bujug jaban! Bu Yati, itu Pak Darto lagi estetik banget tidurnya, kenapa malah difoto bareng tagihan PLN? Mau dijadikan jaminan utang listrik apa gimana, Bu? 😂
Mariam Kitchen: Bah! Jeng Yati! Salah kirim foto lagi kau ya?! Kasihan kali Pak Darto, kewibawaan bapak kos langsung anjlok ke titik nol. Pak Darto Kos: (Pesan ditarik)
Pak Darto Kos: Ibuuu! Kenapa foto Bapak lagi mangap dimasukin ke grup anak-anak?! Hapus kagak! Bikin malu aja! 🙈
Tawa renyah sempat membanjiri ruang obrolan virtual itu selama beberapa menit. Stiker-stiker lucu bertema bapak-bapak dikirim berhamburan oleh Jaka dan Omen. Bagi mereka, kesalahan teknis Bu Yati adalah hiburan pagi yang menyejukkan di tengah himpitan rutinitas kerja.
Namun, keceriaan sederhana di dunia maya itu hanya bertahan hingga pukul sebelas siang.
Ketika matahari Jakarta tepat berada di puncaknya dan suhu udara mulai membakar aspal gang, sebuah notifikasi baru masuk ke grup WhatsApp yang sama. Tidak ada nama pengirim khusus untuk pesan tersebut di beberapa ponsel yang belum menyimpan nomor asing, namun dalam hitungan detik, semua orang menyadari bahwa pesan itu dikirim menggunakan salah satu nomor anggota grup.
Atau lebih tepatnya... sebuah salah kirim yang fatal.
[11.14] +62 812-xxxx-xxxx: (Gambar)
Itu adalah sebuah tangkapan layar—screenshot—obrolan pribadi melalui fitur Close Friend Instagram dan percakapan teks singkat antara dua orang.
Latar belakang obrolan itu berwarna gelap. Tulisan di dalamnya tidak mengandung fitnah kejam, tidak ada caci maki kasar, dan tidak ada nama yang ditutupi. Namun, setiap kata yang terketik di sana menghantam dada siapa pun yang membacanya bagaikan godam besi.
“Jujur ya, kadang gue capek banget tinggal di kosan ini. Tiap malam harus pura-pura seneng, pura-pura dengerin keluhan orang. Padahal energi gue sendiri udah habis. Mana Jaka berisik mulu kagak ngerti situasi, Tuti apa-apa dihitung pake duit, Mariam kalau ngomong suka kasar bikin sakit hati. Gue ngerasa mereka semua tuh makin lama makin nuntut gue buat jadi pelindung, padahal gue cuma pengen tenang. Kadang gue mikir, apa gue pindah kos aja ya bulan depan? Capek bgt harus pasang muka ramah tiap hari.”