Ada satu masa di mana tumbuh dewasa tidak lagi terasa seperti sebuah pencapaian yang membanggakan, melainkan sebuah hukuman tanpa akhir. Masa di mana Alarm ponsel di pagi hari terdengar seperti sirine peringatan bencana, dan jalanan kota Jakarta tampak seperti arena adu ketangkasan bagi manusia-manusia yang jiwanya sudah setengah mati.
Minggu itu adalah minggu terburuk dalam sejarah Kos Harmoni.
Buntut dari insiden screenshot obrolan rahasia yang bocor di grup WhatsApp dua hari lalu masih meninggalkan luka yang bernanah di dalam dada masing-masing penghuni. Tidak ada pertengkaran terbuka, tidak ada saling tuduh yang histeris. Yang ada hanyalah keheningan yang tebal dan beracun.
Jaka duduk di atas jok motor Varionya di tepi jalan raya daerah Sudirman yang membara oleh terik matahari pukul satu siang. Jaket ojolnya terasa sangat panas dan kaku di kulitnya. Sepanjang hari, ia hanya mendapatkan tiga orderan jarak dekat dengan tarif tidak seberapa. Algoritma aplikasi ojek onlinenya seolah-olah ikut menghukumnya, memberikan rating anyep yang tak kunjung membaik.
Jaka membuka helmnya, membiarkan angin polusi menyapu wajahnya yang kusam. Ia menatap deretan mobil-mobil mewah yang melintas mulus di jalur cepat. Di dalam benaknya, kalimat di screenshot itu kembali terngiang: "Mana Jaka berisik mulu kagak ngerti situasi..."
Jaka mengusap dadanya yang terasa sesak. Selama ini, ia selalu mengira bahwa kelakar konyolnya, tawanya yang cempreng, dan ocehannya di teras adalah obat penawar lelah bagi teman-teman kosnya. Namun kini, ia sadar bahwa keceriaannya mungkin hanyalah gangguan yang tidak diinginkan. Untuk pertama kalinya sejak merantau di Jakarta, Jaka memilih untuk mematikan aplikasi ojolnya lebih awal, menepi di bawah jembatan penyeberangan, dan melamun sendirian hingga sore tanpa niat untuk pulang ke kosan.
Di belahan kota yang lain, Tuti Lestari berdiri di dalam lift gedung perkantoran kawasan Kuningan. Matanya yang membengkak menatap pantulan dirinya di dinding kaca lift.
Lembur tiga hari berturut-turut hingga pukul sepuluh malam demi mengejar tenggat waktu laporan keuangan perusahaan telah menguras sisa-sisa tenaganya. Atasannya baru saja memarahinya di depan seluruh staf hanya karena salah mengetik satu angka di lembar Excel—sebuah kesalahan sepele yang tidak pernah Tuti lakukan sebelumnya.
Tuti melangkah keluar gedung, menyusuri trotoar yang dipenuhi pejalan kaki yang berjalan cepat dan terburu-buru. Jam tangan di pergelangannya menunjukkan pukul delapan malam. Ponsel di tasnya bergetar, menampilkan nama ibunya dari Solo. Tuti membiarkan panggilan itu berdering hingga mati. Ia tidak punya energi lagi untuk mendengarkan pertanyaan tentang uang saku adik atau kapan ia akan membawa calon suami pulang.
"Tuti apa-apa dihitung pake duit..."
Tuti tertawa kecil, sebuah tawa pahit yang lolos dari bibirnya yang kering. Gimana aku nggak hitung-hitungan, batin Tuti menjerit lelah, kalau nggak ada satu orang pun di dunia ini yang berdiri di belakangku buat nanggung kalau aku jatuh? Ia mampir ke minimarket terdekat, membeli sebuah mi instan cup dan botol air mineral murah, lalu memakannya sendirian di atas bangku taman kota yang dingin dan sepi, enggan melangkahkan kaki kembali ke kamar kosnya yang menghimpit.
Sementara di klinik psikologi tempatnya bekerja, Sri Ningsih baru saja melepas kacamata bacanya setelah sesi konseling terakhir selesai.