Ada keheningan yang berbeda dari sekadar ketiadaan suara. Keheningan di kafe Ruang Pulang malam itu terasa dingin, berat, dan dipenuhi oleh gema ingatan dari tawa yang pernah hidup di sana.
Kafe kecil berkonsep rumahan di sudut Gang Harmoni itu biasanya menjadi tempat pelarian paling hangat setelah pukul delapan malam. Lampu gantung bersinar kuning keemasan, dipadukan dengan aroma kafein dan roti panggang margarin yang selalu memenuhi ruangan. Meja kayu jati panjang di sudut terdekat jendela utama biasanya dipadati oleh ketujuh cangkir kopi, tumpukan kartu Uno yang berantakan, serta suara gelak tawa cempreng Jaka yang beradu dengan omelan Mariam.
Namun malam ini, di hari Kamis pertengahan bulan, meja kayu panjang itu kosong melompong.
Made berdiri kaku di balik meja bar. Celemek hitam terikat di pinggangnya, dan jemarinya yang terampil sibuk mengelap portafilter mesin espresso menggunakan kain mikrofiber kering. Gerakannya sangat ritmis, mekanis, dan tanpa nyawa. Matanya yang biasanya memancarkan ketenangan hangat kini tampak sayu dan redup.
Setiap kali pintu kaca kafe berdentang—menandakan ada pelanggan yang masuk—refleks Made langsung mengarahkan pandangannya ke pintu utama. Hatinya yang tersembunyi berharap melihat jaket ojol hijau Jaka, daster santai Sri, atau sosok mungil Tuti yang membawa laptop. Namun yang melangkah masuk hanyalah mahasiswa asing yang membawa earphone atau pasangan muda yang langsung menuju pojok ruangan.
"Made, meja sudut biasanya ramai jam segini. Anak-anak kos pada kemana?" tanya Pemilik Ruang Pulang—seorang pria paruh baya yang akrab disapa Mas Bimo—sambil meletakkan nampan cangkir bersih di meja bar.
Made tersentak kecil dari lamunannya. Ia memaksakan sebuah senyum tipis. "Kurang tahu, Mas. Mungkin pada sibuk lemburan kantor atau lagi pada capek."
Mas Bimo mengamati wajah karyawan terbaiknya itu sejenak, lalu mengangguk paham tanpa bertanya lebih jauh. Di kota sebesar Jakarta, setiap orang punya masa-masa di mana mereka butuh menarik diri dari keramaian.
Pukul sembilan malam, pintu kaca kembali berdentang pelan.
Sesosok pria jangkung berambut pirang gelap melangkah masuk dengan ransel kanvas di bahunya. Paul Anderson melintasi area bar, mengangguk singkat ke arah Made.
"Malam, Made," sapa Paul pelan.
"Malam, Paul," jawab Made, suaranya pelan dan berjarak. "Kopi biasa?"
"Iya, arabika Flores manual brew. Single origin," sahut Paul.
Paul tidak melangkah ke meja-meja kecil di sudut lain. Dengan langkah yang tenang namun terasa amat berat, ia berjalan lurus menuju meja kayu jati panjang di dekat jendela—meja yang selama berbulan-bulan menjadi saksi bisu lahirnya persahabatan mereka.