ANAK KOST HARMONI

Ahmad Barnash
Chapter #22

Festival Kampung

Hari Sabtu pagi di tepi Situ Gede biasanya hanya dihiasi oleh kepulan asap kopi sasetan para pemancing mania dan kepakan sayap burung bangau rawa. Namun pagi ini, ketenangan itu terusir oleh suara speaker toa kelurahan yang berdentum kencang memutar lagu dangdut klasik, beradu dengan teriakan anak-anak kecil yang berlarian membawa umbul-umbul warna-warni.

Festival Danau Situ resmi dimulai.

Acara tahunan yang digagas Pak RT untuk menggalang dana kebersihan lingkungan dan perbaikan taman itu berubah menjadi bazar rakyat yang sibuk. Di sepanjang tanggul danau yang rimbun oleh pohon ketapang kencana, berderet stan-stan bambu atap terpal yang menjual berbagai jajanan kaki lima, kerajinan tangan warga, hingga panggung utama sederhana berlatar belakang spanduk cetak yang agak miring.

Di tengah hiruk-pikuk itu, ketujuh penghuni Kos Harmoni berdiri berkumpul di dekat posko panitia dengan wajah-wajah yang tampak separuh tertekan.

"Saya kagak mau tahu ya, pokoknya ini tugas negara buat warga komplek!" seru Bu Yati kencang sambil mengibaskan kipas cendananya, berdiri berdampingan dengan Pak RT yang memegang papan jalan berisikan susunan acara. "Ibu sama Pak RT udah daftarin nama kalian semua jadi panitia inti. Nggak ada yang boleh bolos atau beralasan lembur!"

Jaka yang mengenakan kaus oblong hijau kumal dan topi rimba menaikkan alisnya. "Bujug dah, Bu Yati! Kita kan belum pernah menyatakan kesediaan secara lisan maupun tulisan! Main tunjuk aja kayak milih ketua kelas SD."

"Kagak ada protes, Jaka!" potong Pak RT dengan nada komando. "Jaka sama Omen urus ketertiban parkir dan penataan kendaraan di sepanjang gang masuk. Mariam pimpin dapur umum buat konsumsi panitia dan pengisi acara. Tuti urus penjualan tiket kupon dan pembukuan keuangan bazar. Made buka stan demo kopi lokal. Sri pegang posko kesehatan darurat. Terus Paul... kamu dokumentasikan seluruh acara dari awal sampai selesai!"

Meskipun rasa canggung dan tembok keheningan dingin pasca-kejadian screenshot obrolan kemarin masih menggantung di antara mereka, tanggung jawab sosial kampung tidak memberikan mereka ruang untuk melarikan diri ke kamar masing-masing.

Mau tidak mau, mesin kekompakan Kos Harmoni yang sempat mogok terpaksa diputar kembali.

Pukul dua siang, terik matahari Jakarta membakar area danau tanpa ampun. Suasana festival mencapai puncak keramaian.

Di gang masuk Situ Gede, Omen dan Jaka berdiri memegang peluit di tengah kemacetan puluhan motor pengunjung. Omen yang bertubuh kekar memamerkan otot lengannya untuk mengatur posisi parkir kendaraan agar tidak menutupi jalan warga, sementara Jaka meliuk-liuk lincah memandu mobil-mobil yang berusaha memutar balik.

"Jak! Itu motor matic putih sejajarin sama motor merah di sono! Awas jangan nutupin jalan masuk ambulance kalau ada apa-apa!" teriak Omen lewat pengeras suara TOA genggam.

"Siap, Komandan Otot! Santai napa, napas lu biasa aja, kancing baju lu mau copot tuh!" balas Jaka kencang. Di balik kelelahan mereka, gerak refleks kerja sama antarcowok itu mengalir begitu alami tanpa mereka sadari.

Sementara itu, di Dapur Umum yang didirikan di balik panggung utama, Mariam menguasai area dengan wewenang penuh seorang koki kepala. Asap gurih dari panggangan sate dan tumisan bumbu mi goreng membumforyudara. Mariam memotong bahan makanan dengan kecepatan tinggi, mengomandoi beberapa ibu-ibu komplek yang kewalahan menangani pesanan nasi boks panitia.

"Jeng Ning! Itu minyak gorengnya jangan kepanasan kali! Nanti tempenya gosong di luar mentah di dalam!" omel Mariam tegas. Namun begitu ia melihat Sri melintas membawa kotak P3K dengan wajah pucat kelelahan, nada suara Mariam mendadak melunak. "Sri! Sini sebentar! Minum es teh manis ini dulu, jangan sampai kamu yang pingsan di pos kesehatan!"

Sri tersenyum lembut, menerima gelas es teh manis dari Mariam. "Terima kasih, Kak Mar."

Lihat selengkapnya