Malam minggu di Gang Harmoni harusnya dipenuhi oleh riuh anak-anak muda yang nongkrong di pengkolan, bau sate ayam yang dibakar di pinggir jalan, serta tawa riang dari teras Kos Harmoni. Namun malam ini, setelah hiruk-pikuk Festival Danau Situ usai, atmosfer di dalam rumah kos berlantai dua itu mendadak hening dan berat.
Pukul sembilan malam, sebuah bunyi klak tajam terdengar dari arah gerbang besi depan.
Bu Yati berdiri tegap di ambang gerbang. Dengan gerakan mantap yang sengaja dikencangkan, ia mengunci gembok besi raksasa yang menggantung di sana, lalu memasukkan kuncinya ke dalam kantong daster motif bunga mawar merahnya. Di belakangnya, Pak Darto berdiri memegang sebuah nampan kayu berisi satu teko besar teh melati panas dan sepiring pisang goreng tepung yang masih mengepulkan uap wangi.
"Bu Yati? Kok gerbang digembok jam segini?" tanya Jaka heran yang baru saja mau melangkah keluar membawa helm ojolnya. "Saya mau narik orderan malam Minggu nih, lumayan insentifnya."
"Kagak ada yang narik-narik ojek! Kagak ada yang mau ke kafe, kagak ada yang mau lemburan, dan kagak ada yang mau sembunyi di kamar masing-masing!" seru Bu Yati dengan volume suara melengking yang memantul di dinding koridor. "Semua anak kosan Ibu, turun sekarang juga! Duduk di ruang tamu!"
Satu per satu pintu kamar di lantai atas berderit terbuka.
Tuti mengintip dengan wajah heran sambil memegang laptopnya. Sri yang sedang memakai kardigan rajutnya ikut turun dengan langkah pelan. Mariam, Made, Omen, dan Paul yang baru saja hendak masuk ke kamar masing-masing akhirnya berbalik arah, melangkah canggung menuruni tangga beton.
"Aduh, Jeng Yati... ada darurat apa lagi ini?" keluh Mariam sambil menarik salah satu kursi kayu di ruang tamu bawah. "Restoranku aja udah tutup, masa di kosan kena jam malam juga?"
"Duduk!" perintah Bu Yati tegas.
Ketujuh sahabat itu akhirnya duduk melingkar di ruang tamu bawah yang sederhana. Kursi rotan tua, bangku kayu panjang, dan ubin teras dipenuhi oleh ketujuh perantau tersebut. Pak Darto meletakkan nampan teh panas dan pisang goreng di tengah meja, lalu mengambil posisi berdiri di samping istrinya dengan wibawa bapak kos yang langka.
Bu Yati tidak langsung berbicara. Ia mengibaskan kipas cendananya pelan, matanya yang tajam menatap satu per satu wajah anak-anak kosnya—wajah-wajah muda yang tampak lelah, menyimpan luka, dan terpisah oleh jarak dingin yang tercipta sejak insiden screenshot obrolan beberapa waktu lalu.
"Ibu mau tanya sama kalian semua," buka Bu Yati, suaranya kini melunak, kehilangan nada melengkingnya dan berganti menjadi kepedihan yang jujur. "Kalian ini sebenarnya nggegap menganggap Kos Harmoni ini apa?"
Pertanyaan sederhana itu menggantung di udara malam yang dingin. Tidak ada yang berani menjawab. Jaka menunduk menatap alas sandalnya, Tuti meremas ujung kardigannya, dan Made hanya menatap cangkir teh yang belum tersentuh.
"Tiga tahun lalu..." lanjut Bu Yati pelan, matanya menerawang menatap foto hitam-putih almarhum suami pertamanya yang tergantung di dinding ruang tamu, "...kos-kosan ini pernah hampir tutup. Rumah ini pernah hampir dijual sama Pak Darto."
Pak Darto menunduk, mengangguk pelan mengonfirmasi cerita istrinya.
"Waktu itu," cerita Bu Yati dengan bibir bergetar halus, "penghuni kosan sebelum kalian pada berantem parah gara-gara masalah sepele. Saling tuduh, saling curiga, dan yang paling parah... mereka memilih saling diam. Tiap kali ketemu di tangga, pada memalingkan muka. Tiap kali ada yang masuk dapur, yang lain langsung buru-buru masuk kamar dan ngunci pintu."