Langit di atas kawasan pinggiran Jakarta tidak pernah memberi peringatan panjang. Baru saja pertengkaran dingin di Kos Harmoni melumer dalam rekonsiliasi yang hangat di ruang tamu malam itu, suara guntur berdentum dahsyat membelah kegelapan.
Hujan meluncur deras dari langit seperti ribuan jarum air yang menghantam genting. Hanya dalam waktu kurang dari satu jam, drainase tua Gang Harmoni kewalahan menampung debit air. Dari arah danau rawa Situ Gede, suara gelombang air yang merayap naik terdengar samar di antara deru angin malam.
TUK! TUK! TUK! TUK!
Suara ketukan kentongan kayu dari pos ronda Pak RT berbunyi nyaring berulang-ulang—tanda bahaya banjir lokal.
"Warga Gang Harmoni! Air Situ Gede meluap! Tanggul darurat bobol dekat Warteg Bu Ning! Harap bantu evakuasi barang!" teriak Pak RT lewat TOA genggamnya di tengah guyuran hujan kencang.
Seketika, pintu gerbang Kos Harmoni yang baru saja dibuka kuncinya oleh Bu Yati kembali bergetar. Ketujuh sahabat yang masih duduk berselimut di ruang tamu saling bertukar pandang sejenak. Tanpa perlu aba-aba, tanpa ada lagi sisa rasa canggung atau gengsi pasca-kejadian screenshot, mereka semua berdiri serempak.
"Warteg Bu Ning kebanjiran?!" seru Jaka panik. "Ayo buruan ke sono! Kasihan Bu Ning sendirian!"
"Omen, ambil senter raksasa di laci! Made, kunci pintu belakang! Tuti sama Sri bawa kain lap sama kantong plastik gede!" komando Mariam sigap, memimpin pergerakan dengan naluri pelindungnya yang bangkit seutuhnya.
Mereka berlari keluar menerobos hujan deras yang mengguyur tanpa ampun. Air hujan yang dingin langsung membasahi pakaian mereka dalam hitungan detik. Jalanan gang yang biasanya kering kini berubah menjadi aliran sungai kecil setinggi betis orang dewasa.
Di tepi tanggul Situ Gede, kondisi Warteg Bu Ning tampak memprihatinkan.
Air keruh dari danau sudah masuk menembus celah pintu bawah warteg, merendam lantai ubin hingga setinggi lutut. Bu Ning yang hanya mengenakan daster tua dan kain sarung tampak panik setengah mati, berusaha sendirian mengangkat karung beras lima puluh kilogram ke atas meja makan agar tidak basah.
"Ya Allah... beras saya... kompor saya..." cicit Bu Ning dengan suara bergetar menahan tangis.
"Bu Ning! Jangan diangkat sendiri, nanti pinggang Ibu copot!" teriak Omen yang mendobrak pintu warteg pertama kali.
Dengan otot-otot lengannya yang kekar, Omen langsung menyambar karung beras berat itu, mengangkatnya dengan mudah ke atas rak kayu yang lebih tinggi. Jaka dan Made menyusul masuk, mengangkat kompor gas dua tungku yang berat serta tabung elpijinya ke atas meja kasir yang kering.
Mariam dan Sri bergerak cepat menyapu piring-piring keramik, rak gorengan, dan etalase kaca berisi lauk pauk agar tidak tersenggol luapan air. Sementara itu, Tuti membantu Bu Ning mengamankan kotak uang kas warteg dan dompetnya ke dalam tas plastik kedap air.
"Hati-hati, Tut! Lantainya licin banyak lumpur rawa!" panggil Jaka mengingatkan di tengah bisingnya hujan.