Pagi itu langit masih berwarna abu-abu muda ketika Anisya berdiri di depan cermin kecil di kamarnya. Seragam putih biru yang baru dibelikan ibunya tergantung rapi di tubuhnya. Rambut panjangnya diikat dua, membuat wajahnya terlihat lebih manis sekaligus gugup.
Hari itu adalah hari pertama Anisya masuk SMP pada tahun 2022.
“Ayo, Nak. Nanti terlambat,” panggil ibunya dari dapur.
“Iya, Bu…” jawab Anisya pelan.
Meski menjawab tenang, jantungnya berdebar keras. Ia belum pernah masuk sekolah sebesar SMP sebelumnya. Selama di SD, semua terasa mudah karena teman-temannya sudah dikenalnya sejak kecil. Tapi sekarang semuanya berbeda.
Sekolah baru. Teman baru. Guru baru.
Bahkan bangunan sekolah itu terlihat begitu besar di matanya.
Ayahnya mengantar menggunakan motor tua yang setiap pagi selalu berbunyi keras saat dinyalakan. Di sepanjang jalan, Anisya hanya diam sambil memegang tas barunya erat-erat.
“Takut?” tanya ayah sambil tersenyum kecil.
Anisya mengangguk pelan.
“Tak apa takut. Semua anak juga pasti takut di hari pertama.”
Perkataan itu sedikit membuatnya tenang.
Saat tiba di gerbang sekolah, suasana sudah ramai. Banyak siswa baru berdiri bersama orang tua mereka. Ada yang tertawa, ada yang sibuk mencari kelas, dan ada juga yang tampak sama gugupnya seperti Anisya.
Tulisan besar di depan sekolah membuatnya menarik napas panjang.
“SMP Negeri Harapan Bangsa.”
“Ingat,” kata ayah sebelum pergi, “jadi anak baik dan jangan takut berteman.”
Anisya mengangguk.
Setelah ayahnya pergi, ia berdiri sendiri di halaman sekolah sambil memegang jadwal pembagian kelas. Tangannya dingin karena gugup.
“Kelas 7B…” gumamnya pelan.
Namun sebelum ia sempat berjalan, seseorang tiba-tiba menabraknya dari samping.
“Eh, maaf!”
Buku Anisya jatuh berserakan.
Seorang anak laki-laki buru-buru membantu memungut buku-bukunya.
“Aku nggak sengaja,” katanya sambil tersenyum canggung.
Anisya hanya mengangguk pelan.
“Aku Raka. Kamu kelas berapa?”
“7B…”
“Masa? Aku juga!”
Untuk pertama kalinya pagi itu, Anisya tersenyum kecil.
Mereka berjalan bersama menuju kelas. Di sepanjang lorong, suara siswa baru memenuhi sekolah. Ada yang saling memperkenalkan diri, ada yang sibuk mencari tempat duduk terbaik.
Saat masuk ke kelas 7B, Anisya langsung merasa semakin gugup. Semua wajah masih asing.
Bu Rina, wali kelas mereka, berdiri di depan sambil tersenyum ramah.
“Selamat datang di keluarga baru kalian,” katanya lembut. “Di sini kalian bukan hanya belajar pelajaran, tapi juga belajar tentang persahabatan, tanggung jawab, dan mimpi.”
Kata-kata itu membuat Anisya perlahan merasa lebih nyaman.
Ia duduk di bangku dekat jendela bersama seorang anak perempuan bernama Salsa yang ternyata sangat cerewet namun baik hati.
Hari pertama itu berjalan panjang.
Ada perkenalan. Ada tawa. Ada rasa malu. Ada juga rasa takut yang perlahan mulai hilang.
Saat pulang sekolah, Anisya berjalan keluar gerbang sambil membawa banyak cerita baru di kepalanya.
Ternyata SMP tidak semenakutkan yang ia bayangkan.
Namun Anisya belum tahu… bahwa tahun 2022 akan menjadi awal dari perjalanan yang mengubah hidupnya selamanya.Hari-hari pertama di SMP mulai terasa lebih menyenangkan bagi Anisya. Setiap pagi ia tidak lagi terlalu gugup saat mengenakan seragam putih birunya. Bahkan kini ia mulai hafal jalan menuju kelas 7B tanpa harus melihat papan petunjuk.
Di kelas, suasana perlahan menjadi akrab.
Salsa yang duduk sebangku dengannya selalu punya cerita setiap hari. Kadang tentang drama Korea favoritnya, kadang tentang guru-guru yang menurutnya menyeramkan.
“Menurutmu Pak Hendra galak nggak?” bisik Salsa saat pelajaran belum dimulai.
Anisya tertawa kecil. “Sedikit…”
“Sedikit? Menurutku banyak!”
Mereka langsung tertawa bersama.
Di sisi lain, Raka juga sering membantu Anisya. Anak laki-laki itu ternyata cukup pintar matematika dan suka bercanda. Meski kadang jahil, semua orang menyukainya.
Suatu siang setelah pelajaran olahraga, Anisya duduk sendiri di bawah pohon dekat lapangan sekolah. Angin sore bertiup pelan membuat daun-daun bergerak pelan di atas kepalanya.
Ia membuka bekal yang dibawakan ibunya.
Namun tiba-tiba seseorang datang.
“Kok sendirian?”
Ternyata Raka.
“Nggak apa-apa. Lagi capek aja,” jawab Anisya.
Raka duduk di sampingnya sambil meminum air mineral dingin.
“Kamu pendiam ya.”
Anisya tersenyum kecil. “Memang dari dulu begitu.”
“Padahal kalau senyum lumayan juga.”
“Hah?”