Anak mulai masuk kesekolah smp ditahun 2022

Arifin
Chapter #2

Sahabat Atau Masalah Baru

Hari Senin pagi, hujan turun sejak subuh. Jalanan di depan sekolah masih basah ketika Anisya turun dari motor ayahnya sambil memegang tas di depan dada agar tidak terkena air.


“Belajar yang rajin,” kata ayah sebelum pergi.


Anisya mengangguk sambil tersenyum.


Saat masuk ke kelas 7B, suasana terlihat lebih ribut dari biasanya. Beberapa siswa berkumpul di pojok kelas sambil berbisik-bisik.


“Ada apa?” tanya Anisya pada Salsa.


Salsa langsung mendekat.


“Kamu belum tahu?”


“Tahu apa?”


“Katanya ada yang kehilangan uang di kelas.”


Anisya terkejut. “Hilang?”


Salsa mengangguk cepat. “Uang kas buat kegiatan kelas. Lumayan banyak.”


Belum sempat mereka bicara lagi, Bu Rina masuk dengan wajah serius.


“Anak-anak, ibu harap semuanya tenang.”


Kelas langsung hening.


“Uang kas kelas hilang pagi ini. Ibu tidak ingin menuduh siapa pun, tapi kita harus mencari tahu bersama.”


Semua siswa mulai saling memandang.


Anisya merasa suasana kelas tiba-tiba menjadi tidak nyaman.


“Siapa terakhir pegang uangnya?” tanya Bu Rina.


“Dina, Bu,” jawab seorang siswa.


Dina berdiri pelan. “Tadi saya simpan di laci meja sebelum olahraga…”


“Lalu?”


“Pas balik… sudah tidak ada.”


Bisik-bisik mulai terdengar lagi di seluruh kelas.


Anisya hanya diam sambil menunduk.


Namun tiba-tiba seseorang berbicara dari belakang.


“Tadi yang paling lama di kelas cuma Raka.”


Suasana langsung sunyi.


Raka yang sedang duduk santai langsung mengangkat kepala. “Maksudmu apa?”


“Ya… tadi kami semua di lapangan.”


Beberapa siswa mulai saling berbisik.


Anisya bisa melihat wajah Raka berubah kesal.


“Aku nggak ambil,” katanya tegas.


“Tapi kamu memang tadi di kelas.”


“Karena aku sakit perut!”


Suasana semakin tegang.


Bu Rina segera menenangkan mereka. “Sudah. Jangan saling menuduh tanpa bukti.”


Namun gosip sudah terlanjur menyebar.


Saat istirahat, beberapa siswa mulai menjauh dari Raka. Bahkan ada yang sengaja berhenti bicara ketika Raka lewat.


Anisya memperhatikan semuanya dari jauh.


Ia tahu Raka memang jahil dan suka bercanda. Tapi entah kenapa, ia merasa Raka bukan pencurinya.


Siang itu, saat menuju kantin, Anisya melihat Raka duduk sendirian di belakang perpustakaan.


Biasanya anak itu selalu ramai dan suka bercanda. Tapi sekarang ia hanya diam sambil melempar batu kecil ke tanah.


Anisya ragu-ragu mendekat.


“Kamu nggak ke kantin?”


Raka tersenyum tipis tanpa melihatnya. “Lagi nggak lapar.”


Anisya duduk pelan di sampingnya.


“Aku percaya kamu nggak ngambil.”


Raka langsung menoleh kaget.


“Serius?”


Anisya mengangguk kecil.


Beberapa detik mereka hanya diam mendengar suara hujan yang turun pelan di atap sekolah.


Lalu Raka tertawa kecil.


“Untung masih ada yang percaya.”


Anisya ikut tersenyum.


Namun mereka tidak sadar… dari kejauhan ada seseorang yang memperhatikan mereka dengan wajah tidak suka.


Dan sejak hari itu, masalah di kelas 7B mulai berubah menjadi sesuatu yang lebih besar daripada sekadar uang yang hilang.


Keesokan harinya suasana kelas 7B masih terasa aneh. Meski pelajaran berjalan seperti biasa, bisikan-bisikan kecil tetap terdengar setiap kali Raka lewat.


“Jangan-jangan memang dia…” “Soalnya cuma dia yang di kelas waktu itu.”


Anisya mendengar semuanya.


Ia melihat bagaimana Raka mulai berubah lebih pendiam. Anak laki-laki yang biasanya suka bercanda itu kini lebih sering duduk diam sambil menatap jendela.


Bahkan saat pelajaran olahraga, Raka memilih duduk sendiri di pinggir lapangan.


Salsa mendekati Anisya pelan.


“Kamu masih percaya sama Raka?”


“Iya,” jawab Anisya tanpa ragu.


“Tapi semua orang curiga sama dia.”


“Curiga belum tentu benar.”


Salsa terdiam mendengar jawaban itu.


Siang harinya, Bu Rina kembali membahas soal uang kas yang hilang.


“Ibu harap siapa pun yang mengambil uang itu segera jujur,” katanya lembut. “Ibu tidak ingin masalah ini membuat kalian saling membenci.”


Namun kelas tetap sunyi.


Tak ada yang bicara.


Tak ada yang mengaku.


Setelah pelajaran selesai, Anisya membereskan bukunya pelan-pelan. Saat itulah ia melihat sesuatu di bawah meja paling belakang.


Sebuah kertas kecil.


Awalnya ia mengira itu hanya sampah biasa. Namun ketika dibuka, wajahnya langsung berubah bingung.


Di sana tertulis:


“Kalau mau tahu siapa pencurinya, lihat saat jam istirahat.”


“Apaan itu?” gumamnya pelan.


“Kenapa?” tanya Salsa.


Anisya buru-buru menyembunyikan kertas itu. “Nggak apa-apa.”


Entah kenapa, hatinya mendadak tidak tenang.


Jam istirahat pun tiba.


Dengan rasa penasaran, Anisya berjalan menuju belakang gedung sekolah, tempat yang jarang dilewati siswa. Angin bertiup pelan dan suasananya cukup sepi.


Ia melihat beberapa ember bekas dan gudang olahraga di sana.


Lalu tiba-tiba…


“Anisya?”


Ia menoleh cepat.


Ternyata Raka.


“Kamu ngapain di sini?”


“Aku… cuma jalan.”


Raka terlihat curiga. “Bohong.”


Belum sempat Anisya menjawab, mereka mendengar suara seseorang dari belakang gudang.


Pelan… seperti orang sedang berbicara.


Anisya dan Raka saling pandang.


Mereka mendekat perlahan tanpa bersuara.


Dan saat mengintip dari samping gudang, mata Anisya langsung membesar.


Di sana ada dua siswa kelas mereka sedang membuka dompet kecil berwarna biru.


Dompet uang kas kelas.


“Itu…” bisik Anisya kaget.


Salah satu anak langsung panik saat melihat mereka.


“Lari!”


Kedua siswa itu langsung kabur melewati belakang gedung.


“Eh tunggu!” teriak Raka sambil mengejar.


Anisya ikut berlari meski napasnya mulai terengah-engah.


Namun kedua anak itu berhasil kabur sebelum tertangkap.


Raka berhenti sambil mengatur napas.


“Jadi benar… bukan aku.”


Anisya mengangguk cepat.


“Tapi tadi itu siapa?”


Raka terlihat berpikir keras. “Aku kayak kenal…”


Tiba-tiba bel sekolah berbunyi keras.


Mereka saling memandang dengan wajah tegang.


Kini mereka tahu satu hal penting:


Pencuri uang kas bukan Raka.


Tetapi… bagaimana cara membuktikannya kepada seluruh kelas?


Malam itu rumah Anisya terasa lebih sunyi dari biasanya.


Hujan turun pelan di luar rumah, sementara suara televisi kecil terdengar samar dari ruang tengah. Namun Anisya hanya duduk diam di kamarnya sambil menatap buku yang sebenarnya tidak ia baca.


Pikirannya masih penuh tentang kejadian di sekolah.


Tentang uang kas yang hilang. Tentang Raka yang dituduh. Dan tentang dua siswa yang ia lihat di belakang gudang sekolah.


Ia ingin mengatakan semuanya kepada Bu Rina.


Tapi ia juga takut.


Takut membuat masalah semakin besar.


Takut dimusuhi teman-temannya.


Di dapur, ibunya memperhatikan perubahan itu sejak beberapa hari terakhir.


Biasanya Anisya suka bercerita tentang sekolah. Tentang Salsa yang cerewet. Tentang guru-guru baru. Atau tentang kejadian lucu di kelas.


Tapi sekarang anak itu lebih banyak diam.


Saat makan malam pun Anisya hanya menyentuh sedikit makanannya.


“Anisya,” panggil ibunya lembut.


“Iya, Bu…”


“Kamu kenapa?”


“Nggak apa-apa.”


Ibunya tahu jawaban itu tidak jujur.

Lihat selengkapnya