Hari-hari setelah lomba pidato menjadi salah satu masa paling menyenangkan bagi Anisya. Teman-teman kelas mulai sering memujinya karena keberaniannya tampil di atas panggung.
Bahkan beberapa guru kini lebih mengenalnya.
Namun yang paling membuat hati Anisya bahagia adalah perhatian kecil dari Raka yang tidak pernah berubah.
Kadang Raka membelikannya minuman di kantin. Kadang membantu membawakan buku. Atau sekadar mengirim pesan malam untuk menanyakan tugas sekolah.
Hal-hal sederhana itu perlahan membuat perasaan Anisya semakin dalam.
Meski begitu, ia tidak pernah berani mengakuinya.
Baginya, cukup bisa dekat dengan Raka saja sudah membuat hari-harinya terasa indah.
Pagi itu suasana sekolah sangat ramai karena jam pelajaran pertama kosong. Banyak siswa berkumpul di lorong sambil bercanda.
Anisya sedang duduk bersama Salsa ketika beberapa siswi dari kelas sebelah tiba-tiba lewat sambil berbisik-bisik.
“Itu dia…” “Kasihan juga sih…”
Anisya mengernyit bingung.
“Siapa?” tanya Salsa.
Namun para siswi itu malah tertawa kecil lalu pergi.
Tak lama kemudian ponsel Salsa berbunyi.
Salsa membuka layar lalu wajahnya langsung berubah kaget.
“Astaga…”
“Apa?” tanya Anisya penasaran.
Salsa terlihat ragu. “Anisya… kamu jangan marah ya.”
“Memangnya kenapa?”
Perlahan Salsa menunjukkan layar ponselnya.
Dan saat melihat foto itu, dada Anisya terasa sesak.
Di layar terlihat Raka sedang duduk sangat dekat dengan Citra di kantin luar sekolah.
Citra tersenyum sambil memegang lengan Raka.
Foto itu sudah tersebar di grup siswa.
Jari Anisya langsung terasa dingin.
“Itu… kapan?” bisiknya pelan.
Salsa menggigit bibir. “Nggak tahu…”
Anisya mencoba tersenyum kecil meski hatinya terasa aneh.
“Mungkin cuma teman.”
Namun semakin ia melihat foto itu, semakin hatinya terasa tidak nyaman.
Hari itu Raka belum datang ke sekolah.
Entah kenapa, Anisya jadi terus memikirkan foto tersebut selama pelajaran berlangsung.
Bahkan saat Bu Rina menjelaskan materi, pikirannya melayang ke mana-mana.
Siang harinya Raka akhirnya datang.
Begitu masuk kelas, beberapa siswa langsung menggoda.
“Wih Raka!” “Bareng Citra terus sekarang?” “Cieee…”
Raka terlihat bingung. “Kalian apaan sih?”
Namun saat ia melihat Anisya yang hanya diam menunduk, wajahnya perlahan berubah serius.
Saat jam istirahat, Raka langsung menghampiri Anisya.
“Kamu lihat fotonya ya?”
Anisya berusaha terlihat biasa saja. “Iya…”
“Itu nggak kayak yang mereka pikir.”
Anisya tersenyum tipis. “Aku nggak nanya kok.”
“Anisya…”
“Aku mau ke perpustakaan dulu.”
Anisya segera pergi sebelum Raka sempat menjelaskan lebih jauh.
Ia sendiri bingung kenapa hatinya terasa sakit.
Padahal Raka bukan siapa-siapanya.
Di perpustakaan, Anisya duduk diam sambil membuka buku yang sama sekali tidak ia baca.
Beberapa menit kemudian Salsa datang.
“Kamu nangis?”
“Nggak.”
“Bohong.”
Anisya cepat-cepat mengusap matanya.
Salsa duduk di sampingnya. “Kamu suka sama Raka ya?”
Pertanyaan itu membuat Anisya langsung terdiam.
Untuk pertama kalinya, ia tidak bisa menyangkalnya lagi.
Salsa menggenggam tangannya pelan.
“Kalau memang suka, kenapa nggak jujur sama diri sendiri?”
Anisya menunduk.
“Aku takut…”
“Takut apa?”
“Takut cuma aku yang ngerasa begini.”
Suara Anisya terdengar sangat pelan.
Salsa menghela napas kecil. “Kadang perasaan memang bikin takut.”
Sore harinya hujan turun lagi saat jam pulang sekolah.
Anisya berdiri sendiri di depan kelas menunggu ayahnya.
Tak lama kemudian Raka datang mendekat.
“Aku mau jelasin soal foto itu.”
Anisya diam.
“Citra cuma minta ditemenin beli tugas sekolah.”
“Terus kenapa dia pegang tangan kamu?”
Raka terdiam beberapa detik.
“Aku nggak enak nolaknya.”
Jawaban itu justru membuat hati Anisya semakin sakit.
Hujan turun semakin deras.
Anisya mencoba menahan air matanya agar tidak jatuh.
“Aku pulang dulu.”
Namun saat ia hendak pergi, Raka tiba-tiba memegang pergelangan tangannya pelan.
“Anisya… kamu marah karena apa sebenarnya?”
Pertanyaan itu membuat suasana mendadak sunyi.
Anisya menatap mata Raka beberapa detik.
Jantungnya berdetak sangat cepat.