Naik ke kelas 8B awalnya membuat Anisya merasa senang. Ia masih sekelas dengan Salsa dan Raka. Mereka berharap tahun baru di SMP akan menjadi lebih menyenangkan dibanding sebelumnya.
Namun ternyata, tidak semua berjalan seperti yang Anisya bayangkan.
Di kelas 8B ada beberapa murid baru pindahan. Salah satunya adalah seorang siswi bernama Melisa.
Melisa dikenal cantik, percaya diri, dan cepat akrab dengan banyak siswa. Awalnya Anisya tidak merasa ada masalah.
Bahkan saat pertama kali duduk berdekatan, Anisya sempat tersenyum ramah.
“Halo,” sapa Anisya pelan.
Melisa hanya membalas singkat. “Iya.”
Sejak saat itu, Anisya mulai merasa ada sesuatu yang aneh.
Melisa sering memandangnya sinis tanpa alasan jelas.
Awalnya hanya hal-hal kecil.
Seperti sengaja menertawakan cara bicara Anisya. Mengejek tas lamanya. Atau berbisik-bisik dengan teman lain sambil melihat ke arah Anisya.
“Pendiam banget sih kayak nggak punya teman,” kata Melisa suatu hari cukup keras hingga terdengar jelas.
Beberapa anak ikut tertawa kecil.
Anisya hanya diam sambil menunduk.
Ia tidak suka mencari masalah.
Namun ternyata sikap Melisa semakin lama semakin menjadi.
Suatu pagi saat pelajaran belum dimulai, Anisya membuka tasnya dan terkejut melihat bukunya penuh coretan pulpen.
Di halaman depan tertulis:
“Anak kampung sok pintar.”
Tangan Anisya langsung gemetar.
Salsa yang melihat itu langsung marah. “Siapa yang ngelakuin ini?!”
Namun tak ada yang menjawab.
Di belakang kelas terdengar suara tawa kecil.
Melisa dan dua temannya terlihat saling berbisik sambil tersenyum mengejek.
Mata Anisya mulai terasa panas.
Ia buru-buru menutup bukunya agar tidak ada yang melihat air matanya.
Raka yang baru masuk kelas langsung sadar ada sesuatu yang salah.
“Kenapa?”
Salsa langsung menunjukkan buku itu.
Wajah Raka berubah kesal.
“Siapa yang buat?”
Anisya cepat menggeleng. “Udah nggak apa-apa…”
Tapi Raka tahu jelas itu bukan hal kecil.
Hari-hari berikutnya menjadi semakin berat bagi Anisya.
Kadang kursinya dipindahkan diam-diam. Kadang tempat minumnya disembunyikan. Bahkan beberapa siswa mulai ikut menjauh karena takut dijadikan target bully juga.
Anisya mulai sering diam di rumah.
Ibunya memperhatikan perubahan itu.
Biasanya Anisya suka bercerita tentang sekolah.
Sekarang anak itu lebih sering mengurung diri di kamar.
Suatu malam saat makan bersama, ibunya akhirnya bertanya pelan,
“Anisya… ada masalah di sekolah?”
Anisya langsung terdiam.
“Enggak kok, Bu.”
“Tapi wajah kamu sedih terus.”
Anisya mencoba tersenyum. “Mungkin capek belajar.”
Namun ibunya tahu putrinya sedang menyembunyikan sesuatu.
Malam itu Anisya menangis diam-diam di kamar.
Ia memeluk bantal sambil mencoba menahan suara tangisnya agar tidak terdengar keluar.
Ia tidak mengerti kenapa dirinya dibenci.