Anak mulai masuk kesekolah smp ditahun 2022

Arifin
Chapter #5

#5 Saat Anisya Memilih Bertahan

Setelah berbicara dengan Pak Damar di ruang guru, hati Anisya sebenarnya masih terasa berat.


Ia duduk sendirian beberapa menit sambil memegang gelas air yang mulai dingin. Matanya masih sedikit merah karena menangis.


Pak Damar menatapnya dengan lembut.


“Kalau kamu merasa tidak kuat, jangan dipendam sendiri lagi.”


Anisya mengangguk pelan.


“Bapak akan bantu menyelesaikan masalah ini.”


Namun di dalam hati, Anisya tetap takut.


Ia takut setelah ini teman-temannya justru semakin membencinya karena dianggap mengadu kepada guru.


Saat kembali ke kelas, suasana mendadak hening.


Beberapa siswa langsung menoleh ke arahnya.


Anisya berjalan pelan menuju bangkunya sambil menunduk.


Raka langsung berdiri membantu membersihkan meja yang tadi dicoret.


“Aku udah hapus semampuku,” katanya pelan.


Anisya menatap meja itu.


Meski tulisan spidol masih sedikit terlihat samar, setidaknya tidak sejelas tadi pagi.


“Terima kasih…”


Raka memperhatikan wajah Anisya beberapa detik.


“Kamu masih mau nangis?”


Anisya cepat menggeleng sambil memaksakan senyum kecil.


Namun Raka tahu senyum itu bukan senyum yang benar-benar bahagia.


Hari itu Pak Damar memberikan peringatan keras kepada seluruh kelas.


“Mulai sekarang bapak tidak ingin ada lagi ejekan atau tindakan yang menyakiti teman sendiri.”


Beliau menatap semua siswa satu per satu.


“Sekolah harus jadi tempat belajar, bukan tempat membuat orang lain takut datang.”


Beberapa siswa mulai terlihat malu.


Namun Melisa tetap diam sambil memalingkan wajah.


Sepulang sekolah, Anisya berjalan pelan menuju gerbang.


Biasanya ia selalu pulang bersama Salsa dan Raka, tetapi hari itu ia lebih banyak diam.


Raka akhirnya menghentikan langkahnya.


“Anisya.”


“Iya?”


“Kamu kuat kan?”


Pertanyaan sederhana itu hampir membuat air mata Anisya jatuh lagi.


Namun kali ini ia mencoba tersenyum lebih tulus.


“Aku mau coba kuat.”


Raka menatapnya beberapa detik sebelum berkata,


“Kalau capek, jangan hadapi semuanya sendiri.”


Anisya mengangguk pelan.


Sore itu sesampainya di rumah, ibunya langsung sadar ada sesuatu yang berbeda.


“Kenapa mata kamu merah?”


Anisya terdiam.


Biasanya ia selalu menjawab “nggak apa-apa.”


Namun kali ini… ia merasa terlalu lelah untuk terus menyembunyikan semuanya.


Perlahan air matanya mulai jatuh lagi.


Ibunya langsung panik.


“Anisya… kenapa?”


Dengan suara terbata-bata, akhirnya Anisya menceritakan semuanya.


Tentang ejekan. Tentang meja yang dicoret. Tentang bagaimana ia mulai takut pergi ke sekolah.


Ibunya mendengarkan tanpa memotong sedikit pun.


Dan saat cerita itu selesai, ibunya langsung memeluk Anisya erat.


Tangisan Anisya pecah seketika.


Selama ini ia mencoba terlihat kuat. Mencoba menahan semuanya sendiri.


Namun di pelukan ibunya, semua rasa sakit itu akhirnya keluar begitu saja.


“Ibu bangga karena kamu masih bertahan sejauh ini,” bisik ibunya lembut.


“Tapi kamu nggak harus menghadapi semuanya sendirian.”


Malam itu ayah Anisya juga akhirnya mengetahui semuanya.


Wajah ayahnya terlihat sangat sedih.


“Kenapa baru cerita sekarang, Nak?”


Anisya menunduk. “Aku takut bikin ayah sama ibu khawatir…”


Ayahnya mengusap kepala Anisya pelan.


“Kamu lebih penting daripada apa pun.”


Kalimat itu membuat hati Anisya terasa hangat sekaligus sesak.


Untuk pertama kalinya setelah sekian lama…


ia merasa tidak sendirian lagi.


Namun keesokan harinya di sekolah, sesuatu yang tidak diduga mulai terjadi.


Beberapa siswa yang dulu diam saja saat Anisya dibully perlahan mulai merasa bersalah.


Dan salah satu dari mereka…


akhirnya memberanikan diri mengatakan sebuah rahasia tentang Melisa yang bisa mengubah semuanya.


Pagi itu udara sekolah terasa lebih dingin dari biasanya. Anisya berjalan pelan memasuki gerbang sekolah sambil memegang tali tasnya erat.


Lihat selengkapnya