Anak mulai masuk kesekolah smp ditahun 2022

Arifin
Chapter #19

#19 Mengajarkan Arti Kebersamaan dan Rasa Syukur

Liburan semester terus berjalan dengan tenang.


Bagi Anisya, liburan kali ini terasa berbeda dibanding tahun-tahun sebelumnya. Bukan karena pergi ke tempat wisata atau mendapatkan hadiah istimewa, melainkan karena ayahnya sedang berada di rumah setelah cukup lama bekerja di Papua Barat.


Setiap hari, rumah mereka terasa lebih hidup.


Ayah bisa sarapan bersama keluarga.


Bisa mengantar ibu ke pasar.


Bisa bercanda dengan Alfandi.


Dan bisa mendengarkan langsung cerita-cerita Anisya tanpa harus melalui telepon.


Suatu pagi, keluarga kecil itu duduk bersama di teras rumah.


Udara masih sejuk.


Burung-burung terdengar berkicau dari pepohonan di sekitar rumah.


Ayah memandangi kedua anaknya yang kini semakin besar.


Alfandi yang dulu masih sangat kecil kini sudah duduk di bangku kelas 2 SD.


Sedangkan Anisya sudah menjadi siswi kelas 10 B SMA.


Waktu memang berjalan begitu cepat.


"Nis," kata ayah.


"Iya, Yah."


"Ayah bangga melihat perkembanganmu."


Anisya tersenyum malu.


"Tapi jangan cepat merasa puas."


"Iya, Yah."


"Karena hidup adalah proses belajar yang panjang."


Nasihat itu sudah sering didengar Anisya.


Namun setiap kali ayah mengatakannya, selalu terasa memiliki makna baru.


Sore harinya, beberapa teman Anisya datang berkunjung.


Mereka mengobrol di teras rumah sambil menikmati camilan yang dibuat ibu.


Mereka bercerita tentang pengalaman selama semester pertama.


Tentang kegiatan Pramuka.


Tentang latihan Paskibra.


Tentang guru-guru yang mengajar.


Dan tentang rencana mereka ketika sekolah dimulai kembali.


Suasana penuh tawa dan kebersamaan.


Setelah teman-temannya pulang, ayah berkata,


"Teman yang baik adalah salah satu rezeki dalam hidup."


Anisya mengangguk.


Ia tahu tidak semua orang memiliki teman yang selalu mendukung dalam keadaan senang maupun sulit.


Karena itu ia belajar untuk menjaga persahabatan dengan baik.


Di hari lain, Anisya membantu ibu membersihkan rumah.


Mereka bekerja bersama sejak pagi.


Menyapu.


Merapikan perabot.


Dan membersihkan halaman.


Meski sederhana, kegiatan itu membuat Anisya merasa senang.


Ia mulai memahami bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari hal-hal besar.


Kadang kebahagiaan hadir melalui momen-momen kecil bersama keluarga.


Malam harinya, keluarga berkumpul di ruang tamu.


Tidak ada acara khusus.


Mereka hanya berbincang santai.


Ayah menceritakan pengalaman kerjanya di Papua Barat.


Alfandi bercerita tentang teman-temannya di sekolah.


Sedangkan Anisya lebih banyak mendengarkan.


Di dalam hati, ia merasa bersyukur.


Karena tidak semua keluarga memiliki kesempatan untuk berkumpul seperti ini.


Sebelum tidur, Anisya kembali membuka buku catatannya.


Ia menulis:


Liburan ini mengajarkanku tentang arti kebersamaan.


Aku belajar bahwa waktu bersama keluarga sangat berharga.


Aku belajar bahwa sahabat yang baik adalah anugerah.


Aku belajar bahwa kebahagiaan tidak selalu berasal dari hal-hal besar.


Kadang kebahagiaan hadir ketika kita bisa tertawa bersama orang-orang yang kita sayangi.


Dan hari ini, aku merasa sangat bersyukur atas semua itu.


Anisya menutup buku itu perlahan.


Dari kamarnya, ia masih bisa mendengar suara ayah dan ibu yang sedang berbincang di ruang tamu.


Suara itu membuat hatinya tenang.


Liburan masih berlangsung.


Semester kedua masih jauh.

Lihat selengkapnya