Liburan semester hampir berakhir.
Sebagian besar teman-teman Anisya sudah mulai mempersiapkan diri untuk kembali ke sekolah. Buku-buku pelajaran mulai dirapikan, seragam sekolah mulai disetrika, dan perlengkapan belajar mulai disiapkan kembali.
Anisya juga melakukan hal yang sama.
Meski masih menikmati suasana liburan, ia mulai menata meja belajarnya agar lebih rapi untuk menghadapi semester kedua.
Suatu sore yang cerah, Anisya membantu ibunya berbelanja kebutuhan rumah tangga di pasar.
Pasar cukup ramai karena banyak keluarga yang juga sedang mempersiapkan kebutuhan menjelang masuk sekolah.
Saat sedang berjalan di salah satu lorong pasar, Anisya mendengar seseorang memanggil namanya.
"Anisya!"
Anisya menoleh.
Wajahnya langsung terlihat terkejut sekaligus bahagia.
Ternyata yang memanggil adalah salah satu sahabat lamanya saat masih duduk di bangku SD.
Mereka sudah cukup lama tidak bertemu secara langsung.
"Masya Allah, sudah lama sekali kita tidak bertemu," kata sahabatnya.
"Iya, terakhir mungkin waktu masih SMP," jawab Anisya sambil tersenyum.
Mereka pun mulai berbincang.
Menceritakan pengalaman masing-masing.
Menceritakan sekolah yang mereka pilih.
Dan berbagi cerita tentang kegiatan yang mereka ikuti selama beberapa tahun terakhir.
Anisya merasa senang karena bisa bertemu kembali dengan sahabat yang pernah menemaninya pada masa-masa kecil.
Banyak kenangan yang mereka ingat bersama.
Tentang permainan saat istirahat sekolah.
Tentang tugas kelompok yang pernah mereka kerjakan.
Dan tentang berbagai kejadian lucu yang dulu sering membuat mereka tertawa.
Setelah selesai berbelanja, mereka duduk sejenak di sebuah warung kecil dekat pasar.
Mereka melanjutkan obrolan yang seakan tidak pernah habis.
Sahabat lamanya berkata,
"Aku senang melihat kamu sekarang lebih percaya diri."
Anisya tersenyum.
"Benarkah?"
"Iya."
"Dulu kamu lebih pendiam."
Anisya tertawa kecil.
Ia menyadari bahwa dirinya memang sudah banyak berubah sejak masa SD.
Berbagai pengalaman selama SMP, pesantren, dan SMA telah mengajarkannya banyak hal.
Saat tiba di rumah, Anisya menceritakan pertemuan itu kepada ibunya.
Ibunya ikut senang mendengarnya.
"Persahabatan yang baik memang sering bertahan lama," kata ibu.
"Walaupun jarang bertemu, tetap terasa dekat saat bertemu kembali."
Anisya mengangguk setuju.
Malam harinya, ayah menelepon dari Papua Barat.
Seperti biasa, ia menceritakan kegiatan yang dialaminya hari itu.
Termasuk pertemuan tak terduga dengan sahabat lamanya.
Ayah tersenyum mendengarnya.
"Nis, teman yang baik adalah salah satu kekayaan yang tidak bisa dibeli dengan uang."
"Ayah juga masih punya teman lama?"
"Tentu."
"Bahkan ada beberapa yang masih berhubungan dengan ayah sampai sekarang."
Mendengar itu, Anisya semakin memahami pentingnya menjaga hubungan baik dengan orang lain.
Malam semakin larut.
Sebelum tidur, Anisya kembali membuka buku catatannya.
Ia menulis:
Hari ini aku bertemu kembali dengan sahabat lama.
Pertemuan itu mengingatkanku pada masa-masa kecil yang penuh kenangan.
Aku belajar bahwa waktu memang berjalan cepat.
Tetapi persahabatan yang tulus dapat tetap bertahan meskipun jarak dan waktu memisahkan.
Aku bersyukur memiliki teman-teman baik yang pernah menjadi bagian dari perjalanan hidupku.
Setelah selesai menulis, Anisya menutup buku itu dengan perlahan.
Ia merasa bahagia.
Hari-hari terakhir liburan memberinya pelajaran baru tentang arti persahabatan dan rasa syukur.
Sementara itu, semester kedua semakin dekat.
Tas sekolah sudah mulai disiapkan.
Buku-buku sudah tertata rapi.