Anak Perempuan yang Tak Pernah Dirayakan

Tya Fitria
Chapter #1

1. Aku Ingin di Rumah

Hai!

Namaku Canda Ochiraminah, panggilanku di rumah Ocha, anak bungsu dari dua bersaudara.

Aneh? Iya, aku tahu. 

Aku sendiri pun merasa namaku aneh. Namaku sering jadi bahan candaan oleh kakakku sendiri. Bukan nama bagian depan saja, tapi nama belakangku juga. Dia dulu sering meledekku dengan memanggil nama Minah dan setelahnya dia mengejek namaku yang menurutnya ketinggalan zaman.

Untuk aku kecil, kata-kata itu sangat memengaruhi kepercayaan diriku. Aku jadi tidak suka dan malu dengan namaku, merasa namaku jelek dan kampungan hingga saat ini. Akhirnya, aku selalu protes kepada Ibuku kenapa namaku jelek, tidak seperti kakak yang namanya lebih bagus dan modern, Reifa Ayu Vinara. Jawaban Ibuku simpel.

“Nama kamu yang kasih Bapak. Protesnya ke Bapak.”

“Kenapa bukan Ibu?” tanyaku masih kesal.

“Karena Ibu udah kasih nama ke Mbak Ifa.”

“Ya, harusnya Ibu maksa dong, jangan mau pake nama itu!” Aku masih kesal.

“Ibu udah berusaha, tapi Bapakmu keukeuh pengin nama itu. Makannya Ibu kasih nama panggilan kamu Ocha biar enggak terlalu aneh. Terus, kalau Mbak Ifa, Ibu nggak bisa diem aja karena Bapakmu mau kasih nama Mbak Ifa pake nama mantannya dan itu jelek. Masa mau dikasih nama Juminah.”

Aku terdiam menatap Ibu. Rasanya aku semakin kesal mendengar itu. Perdebatan ini memang sudah sering terjadi dan selalu tidak bisa menenangkan perasaanku. Ingin aku mengajukan pergantian nama ke pengadilan jika saja urusannya tidak rumit dan memakan banyak biaya.

Lagian, siapa yang mau membiyai?

Tidak ada karena itu semua hanya keinginanku saja bukan kebutuhan, kata dia.

Hasilnya, aku tumbuh menjadi anak yang sulit percaya diri bahkan dimulai dari ketika berkenalan dengan orang lain karena harus menyebut namaku sendiri.

Nama Ocha semakin jarang terdengar ketika aku mulai masuk SMP karena lingkunganku semakin luas. Setelah lulus SD, nama panggilan sudah tidak lagi begitu penting. Lebih banyak orang-orang yang memanggilku dengan nama depan sesuai data administrasi. Aku hanya bisa mendengar nama Ocha saat bersama keluarga atau dengan teman-teman SD atau juga dengan mereka yang punya kedekatan emosional lebih denganku. Selain itu, lebih banyak orang yang mengenalku sebagai Canda.

***

Mulai tahun 2013, hari-hari setelah lebaran menjadi hari yang tidak pernah menyenangkan. Sejak itu, keluargaku dari Bapak memutuskan untuk mengadakan acara silaturahmi dan arisan keluarga, tepat tujuh hari setelah lebaran.

Seharusnya memang tidak ada masalah.

Tapi, berada di antara orang-orang yang katanya keluarga itu sama sekali tidak membuatku nyaman karena aku sama sekali tidak mengenal mereka itu sebenarnya siapa dan pengaruhnya di hidupku itu apa.

Lihat selengkapnya