Langkah tapak kaki kecil ini berjalan lincah menyusuri jalan-jalan setapak. Aku tak sendiri, ada beberapa teman yang rumahnya juga searah. Terkadang aku pulang bersama mereka kalau aku tidak dijemput oleh Bapak.
Aku melambaikan tangan saat satu per satu teman sampai di rumah mereka. Rumahku memang di ujung jalan dan yang paling jauh dari sekolah. Setelah berpisah, aku akan melanjutkan perjalananku seorang diri.
Terik matahari terasa begitu menyengat di ubun-ubun. Aku mempercepat langkah mungilku, aku tak sabar untuk cepat-cepat samapi rumah untuk membuka pintu kulkas dan merasakan hawa dingin dari sana. Bayangan air putih dingin terasa begitu menyegarkan tenggorokan yang begitu kering kerontang.
Gerbang besi berwarna hijau itu aku buka. Rodanya sudah agak seret karena gerbangnya pun sudah penuh karat. Aku menarik sekuat tenaga agar gerbang itu bisa cepat terbuka. Wajahku sumringah saat aku berhasil membuka gerbang meski tanganku berubah menjadi merah sesaat.
Aku berlari menuju pintu rumah, gagang pintu di depan mata dan beberapa langkah lagi aku bisa merasakan hawa dingin dari dalam kulkas, tapi aku hanya terdiam, mematung, dan membiarkan tanganku menggantung di depan gagang pintu.
Aku tertunduk. Perlahan aku berusaha menutup mata, berharap bisa mengenyahkan suara bising itu. Tanganku yang satu sibuk meremas rok berwarna merah, tanganku terasa basah penuh keringat. Pertahananku mulai goyah karena kedua kaki ini terasa begitu gemetar.
Bisa saja aku memilih untuk berlari menyelamatkan diri, tapi kaki ini terlalu berat untuk melangkah. Terlalu takut untuk maju dan terlalu enggan untuk berbalik.
Pikiranku hanya satu, keselamatan Ibu.
Aku yang sudah mulai sesenggukkan, akhirnya memberanikan diri membuka pintu rumah dan masuk mengendap-endap. Aku berhenti di ruang tengah, tangan dan kaki masih terasa gemetar, aku berjongkok di depan pintu kulkas dengan perasaan was-was. Aku takut.
Takut kehilngan Ibu karena amarah Bapak.
Aku mendengar semuanya, tangisan Ibu, bentakan Bapak, dan suara nyaring piring yang dibenturkan ke lantai dengan sengaja.
Aku melihat semuanya, mata Bapak yang terus melotot, Ibu yang terus menangis sambil terus mencuci baju Bapak, dan beling-beling piring yang sudah hancur berkeping-keping.