Ada kah tempat aman untukku di dunia ini?
Di rumah aku merasa tidak tenang.
Di sekolah aku merasa tak pernah diperhitungkan.
Di tempat bermain aku merasa ketakutan.
Untuk aku – Ocha yang kala itu masih anak SD, semuanya terasa begitu berat karena tidak ada yang memberitahu bagaimana cara untuk mengurangi. Semuanya terus menumpuk hari demi hari yang hanya bisa aku simpan di dalam diri.
Aku bahkan lupa, sejak umur berapa aku kehilangan kepercayaan diri. Langkuhku tak pernah pasti, selalu penuh ketakutan dan keraguan. Keberadaannya justru membuatku semakin merasa buruk. Bayang-bayanganya yang semakin bersinar terang selalu menyertai setiap kegagalanku yang datang.
Dia adalah Nura.
Usianya hanya terpaut beberapa bulan dariku. Dia bukan hanya teman di sekolah, tapi juga saudara sepupuku. Nura adalah anak Bibi Rati, satu-satunya adik perempuan Ibuku.
Sejak Nura kecil, Bibi Rati sudah pergi merantau ke luar negeri untuk menghidupi keluarganya. Jadi, seringkali urusan tentang Nura akan diurus oleh keluargaku, seperti ketika mendaftar sekolah SD. Bapakku mendaftarkan aku dan Nura sekaligus di sekolah yang sama meski saat itu usiaku masih 6,5 tahun.
Aku dan Nura layaknya anak kembar yang selalu bersama. Bedanya, meskipun kulitku lebih putih, tapi wajahku terlihat jutek. Sedangkan Nura meskipun kulitnya agak hitam, tapi wajahnya terlihat manis.
Aku yang selalu bersama Nura ternyata tidak semata-mata membuat nasib kita sama. Semakin waktu berjalan, perbedaan itu justru semakin jelas terlihat. Nura tumbuh menjadi anak yang pintar, bahkan nama dia setiap tahunnya selalu ada diperingkat satu atau dua. Aku tahu betul bagaimana Nura menjalani hidup. Dia tidak perlu menghabiskan waktu lebih lama untuk belajar agar nilainya bagus. Bahkan, di tengah kondisi ekonomi keluarganya yang pas-pas-an, Nura selalu bisa berprestasi.
Sementara aku?
Aku tidak hanya butuh waktu yang lebih lama untuk belajar, tapi juga biaya yang lebih banyak agar aku terus bisa mengikuti pelajaran. Terutama jika itu menyangkut pelajaran matematika. Sampai saat ini pun urusan hitung-menghitung masih jadi musuh yang paling merepotkan dalam hidup.
Untung saja, keluargaku cukup ketat dalam keuangan. Bapakku lebih memilih untuk menghabiskan uangnya dengan menyimpannya di bank. Jadi, ketika aku perlu biaya untuk mengikuti les tambahan, Bapakku bisa langsung menyediakan.
Tapi semua usaha yang aku lakukan terasa sia-sia. Aku sama sekali tidak ingin merebut posisi Nura dari peringkatnya, aku hanya ingin bisa mengerti pelajaran yang diberikan dan mengerjakan soal dengan benar karena memang aku paham dan bisa.
Aku terlalu lemah, dengan rumus yang sama, tapi pola pertanyaan yang berbeda itu sudah membuatku sangat frustasi. Aku selalu kesulitan dan tidak bisa mengerjakan soal-soal itu. Hingga akhirnya aku selalu bergantung pada Nura.
Bahkan dengan mulutnya sendiri, berbicara langsung di depanku, Bapak Nura, Paman Dano dengan lantangnya meremehkan aku yang masih SD.
“Ocha, kalau enggak ada Nura ya enggak bisa apa-apa.”
Reaksiku saat itu hanya terdiam. Tidak tahu cara untuk membela diri. Aku menceritakannya kepada Ibu dan ya sudah, semuanya berakhir begitu saja.
Tidak ada pembelaan yang dilakukan Ibuku untuk anaknya sendiri.
Prestasi Nura tidak sebatas pada bidang akademik. Bahkan bisa aku bilang dia adalah primadona di sekolah. Dia selalu terpilih untuk mengikuti lomba-lomba penting mewakili sekolah, mulai dari pramuka siaga, tenis meja, cerdas cermat, hingga paduan suara.