ANAK PINGGIR REL

Marloa Setiarini
Chapter #1

KUE JONGKONG

27 tahun lamanya aku tidak mengunjungi rumah masa kecilku. Dan saat ini, detik ini, disini, aku berdiri terpana memandang rumah lama orang tuaku yang tidak banyak berubah. Rumah yang menyimpan kenangan masa kecil. Aku dengar, pemiliknya adalah pedagang kue Jongkong keturunan Cina. Tidak lama kami pindah, orang inilah yang membeli rumah kami secara menyicil. Aku sempat pangling melihat rumah masa kecilku itu. Karena banyak berubah. Walaupun secara bangunan tidak berubah, tapi banyak renovasi yang sudah dikerjakan. Pastilah dia orang kaya, batinku. Karena rumahnya sangat dijaga. Warna catnya putih bersih, dan banyak pot-pot tanaman di depannya. Ya, setelah beberapa purnama akhirnya aku melihat rumah lamaku lagi. Rumah banyak berubah, tapi bau yang menyengat tetap sama. Bau got mampet!

Rumah kami terdiri dari 2 lantai, yang lantai atasnya hanya dari kayu seadanya. Dindingnya dari kayu triplek yang disambung sedemikian rupa. Lantainya dari kayu yang sudah lapuk. Dan bila ada orang naik ke lantai atas, serpihan kayunya akan mengenai siapapun dibawah. Dengan bunyi langkah kaki, kreet kreettt... seperti karet yang mengerat. Yang belakangnya persis menghadap rel kereta api, yang sehari bisa puluhan kali melewati jalur itu. Yang setiap kereta lewat, terasa seperti gempa, karena jarak rumah dengan rel kereta hanya sekitar 200 meter. Yang setiap kereta lewat membuat kuping ini pengang, sampai tidak bisa mendengar suara apapun. Walaupun kereta itu lewat dengan cepat, tapi setiap hari kamu merasakan getaran dan kebisingan itu, pasti akan berpengaruh dengan pendengaranmu. Jadi budi alias budek dikit, hehehe...

Senyumku getir. Berkacalah mata ini dan berdesir sampai ke jantung. Kok aku bisa ada disini lagi, batin aku berkecamuk dan mempertanyakan. Ini asli apa nggak, sih?! Hampir tak percaya aku bisa berada disini lagi. Semua ingatan masa kecil terpampang nyata, was wes lewat di depan mata dalam sekejap dan sekelebatan. Persis seperti film yang diputar cepat. 12 tahun bukan waktu yang cepat untuk menjalani hidup di lingkungan yang maaf, kurang sehat ini. Apalagi kedua orang tuaku yang lebih dulu dan lebih lama tinggal disini. Ini rumah pertama mereka, dan sudah sewajibnya aku kenang. Suka duka, tawa canda, meringis dan menangis, semua menjadi kenangan yang utuh. Sebenarnya aku suka dengan lingkungan yang ramah tetangga dan banyak teman. Tapi setiap orang ingin punya tempat tinggal hidup yang lebih baik. Ingin hidup lebih sehat dan bahagia. Tidak ada lagi suara rel kereta.Karena itu, ketika aku masuk kelas 6 SD, orang tuaku memilih untuk pindah rumah. Tapi rumah ini tetap menjadi sejarah, karena disanalah aku hadir ke dunia.

Aku masih mendengus dan mengendus dalam satu nafas. Bau got, oh bau got. Hmm, bau ini. Bau got yang dulu menjadi ‘nafas’ sehari-hari aku sekeluarga, batin aku. Kenapa pula masih aja bau got, sih! Kenapa got disini harus selalu mampet?! Apa itu juga salah satu legacy nenek moyang kita?!, batinku setengah mengutuk. Baunya benar-benar menyengat!

Saat itu aku tertunduk dengan tatapan tidak terima. Kok bisa ya dulu aku tinggal di tempat seperti ini. Apalagi persis dibelakang rumah, ada empang yang tak terurus. Pastinya! Kalau terurus pastilah bukan empang, bukan? Yang bentuknya saja aku malas membayangkan. Apalagi menceritakannya! Mungkin sekarang empang itu sudah diratakan dengan tanah, entahlah.

Sudahlah, untuk apa aku menceritakan empang dibelakang rumah. Banyak cerita yang terjadi di rumah ini, selain bau got dan empang jorok yang berwarna hitam kehijauan, membuat no appetite. Masih banyak yang bisa diceritakan dari rumah ini, yang pastinya terpatri dalam ingatan. Disini asal usulmu berasal, sis! Don’t ignore it, batinku menambahkan. Dan disinilah rumah tempat aku dilahirkan dan dibesarkan, yang patut menjadi sejarah hidup.

Bapak aku membeli rumah ini ketika masih lajang dulu. Berharap ketika punya istri dan anak, beliau sudah tidak pusing memikirkan rumah. Dan karena ekonomi Bapak aku pas-pasan, dipilihlah rumah di pinggir rel kereta ini, dengan jalurnya yang padat. Dan 5 tahun kemudian, Bapak aku menikah dengan Ibuku, Naniek, wanita asal Solo. Bapak aku sendiri, Sugiharta, yang artinya banyak harta – aamiin - dan biasa dipanggil Pak Gie, berasal dari Slogohimo, sebuah desa kecil di kota Wonogiri, Jawa Tengah. Bapakku lulusan Arsitek, yang bekerja di sebuah kantor agency periklanan. Memang tidak sesuai dengan jurusannya. Tapi di agency itu, banyak ilmu yang bisa dia dapatkan. Dan kelak, dari Bapakku lah, darah seni aku mengalir.

Aku masih berdiri dan menatap rumah masa kecilku dengan semua kenangan itu. Tanpa sadar suara suamiku disebelah, membuyarkan lamunan aku.

“Ya, kok diem aja! Lagi nostalgia ya?!”

Aku hanya meliriknya sambil senyum nyengir. “Kok bisa-bisanya loh, punya rumah dekat sini juga?! Gak ada yang jauhan apa?!

Lihat selengkapnya