ANAK PINGGIR REL

Marloa Setiarini
Chapter #2

KENANGAN LAMA

25 Maret 1979 aku lahir ke dunia ini. Aku dilahirkan secara normal di rumah sakit Setia Kawan di daerah Grogol. Gendis Sugiharta, yang artinya anak perempuan yang manis seperti gula dan kaya akan harta. Nama Sugiharta adalah nama dari Bapakku. Ya sebagai keluarga miskin yang tinggal di pinggir rel, kehidupan kami biasa-biasa saja. Tapi yang sangat kuingat, sedari kecil aku sudah mengenal makhluk yang bernama kucing. Ibuku sangat pecinta kucing, sementara Bapakku sangat benci dengan kucing. Dua kepribadian yang kontras, yang sering kali menjadi sumber masalah di rumah ini.

Banyak kenangan masa kecil yang masih kuingat sampai sekarang. Tapi selain dikenalkan dengan kucing, hidup sehari-hari aku nggak pernah jauh dari yang namanya musik dan buku. Bapakku punya banyak koleksi kaset dan buku. Dan satu lagi yang aku ingat, di ruang tamu rumah, Bapakku punya meja gambar arsitek. Karena rumah kami kecil, meja kerja itu terpaksa ditaruhnya di ruang tamu. Bapakku memang lulusan arsitek yang memiliki darah seni.

Dan saat melangkahkan kaki ke ruang tamu untuk puluhan tahun lamanya lagi, ingatan geografis aku langsung berputar. Otakku langsung me-rewind kejadian masa lalu. Dulu disini ada sofa robek kami. Disitu meja gambar Bapakku. Tempat sepatu lusuh, dan rak kaset juga buku, batinku dengan bertubi dan berapi-api. Dan di dinding dekat kamar itu aku ingat, kalau ada bingkai foto zadul, dimana aku berfoto dengan kedua orang tuaku, sambil menggendong boneka kucing. Foto ala studio pada masa itu, yang jauh dari kata artsy. Lucu kalau mengingatnya.

“Gimana? Udah berubah banget yak rumahnya?!”, suara Kokoh yang lantang, membuyarkan ingatanku.

“Berubah lha, Koh. Ini jadi bagus banget. Terawat banget ya...”

Hahaha. Dan si Kokoh tertawa jumawa. Sepertinya dia bangga memiliki rumah ini. Lalu dari balik kulkas besar yang ia miliki – dimana ia menyimpan kue Jongkong dagangannya- terlihat seorang gadis mata sipit yang menghampiri kami.

Lihat selengkapnya