ANAK PINGGIR REL

Marloa Setiarini
Chapter #3

KURSUS MENARI BALI

Ketika muda, Bapakku orang yang senang musik, membaca, juga film. Aku pun jadi tertular dengan kebiasaan itu. Bapakku merantau jauh dari Slogohimo ke Jakarta, demi mengejar mimpi.

Di dunia ini, musik, buku, dan film adalah hal yang paling kucinta – yah selain kucing. Seperti aku menemukan duniaku. Tiga hal itu yang membuat aku paling keren, walaupun tinggal di gang sempit, di pinggir rel kereta. Tinggal di lingkungan kumuh tapi pengetahuan musik dan filmku -pada saat itu- terbilang oke banget.

Oh ya satu lagi, menari. Entah kenapa dari SD, bakat seniku sangat menonjol. Sementara untuk pelajaran eksak, jebol! Padahal Bapakku pintar bukan main. Matematikanya jago. Dia sangat pandai berhitung. Sat set kalau ada perhitungan semua dijawab dengan cepat! Tapi kenapa nggak menurun ke aku, ya? Kayak alergi gitu aku sama pelajaran Matematika. Pelajaran yang paling aku sukai itu ya menggambar, menari, bahasa Indonesia, yang istilahnya nggak perlu pakai mikir ribet. Aku ingat betul, gambar pertama aku ketika satu SD adalah gambar Bapakku yang merokok sambil mengangkat kaki di bangku. Dan dibawahnya ada kucing yang mendongak keatas. Sumpah! Aku masih ingat benar gambar yang dibilang bagus pada masanya itu. Bangga sekali aku melihat gambarku yang tidak jelas itu – tapi menurut mereka bagus. Dari situ orang tuaku merasa, dunia seni adalah passion-ku. Dan di daftarkanlah aku les menari. Menari Bali, padahal kami orang Jawa medok.

Di dekat rumah kami, di komplek sebelah, ada sebuah sanggar tari Bali yang banyak sekali peminatnya. Aku didaftarkan disana. Aku ingat saat itu usiaku 10 tahun, atau masih kelas 5SD. Oh ya, kalian tahu gimana kecilnya aku dulu? Kurus kerempeng, hitam legam dan dipenuhi panu di wajah. Mata tipis dan rambut pun nggak kalah tipisnya. Belum lagi di telapak tanganku, kulitnya sering pecah-pecah alias bruntusan. Selain juga karena lingkungan yang kurang bersih, di rumahku masih menggunakan air asin. Iya, air asin! Betapa menyedihkannya kalau ingat saat itu. Gadis kecil yang nggak ada cantik-cantiknya. Boro-boro minum pakai air galon. Untuk konsumsi sehari-hari, kami beli air di abang tukang air yang lewat. Yang berjualan dengan dirigen kalengnya, sambil mendorong gerobaknya. Yang kalau nggak salah, sekaleng itu harganya 500 perak! Setelah itu diletakkan di ember jumbo yang ditutup, yang diletakkan dekat dapur. Seminggu bisa 2 sampai 3 kali kami mengisi air. Dan itu hanya untuk minum atau masak, ya. Untuk mandi kami pasrah mandi dengan air asin.

Lihat selengkapnya