ANAK PINGGIR REL

Marloa Setiarini
Chapter #4

BAPAKKU: KASET, BUKU DAN KASET BETACAM

Wajah aku dan Bapakku sangatlah mirip. Orang bilang kalau wajah kita mirip -sulit akur- pasti ada aja ributnya. Memang ada benarnya juga, ya. Aku termasuk anak yang jarang bicara dengan Bapakku yang agak pemarah. Maaf, Pak. Sementara Bapakku lebih dekat dengan Kala, adikku yang cowok. Usiaku dan Kala bertaut 2 tahun. Bedanya aku dengan Kala, aku anak yang pembangkang dan susah nurut. Ndablek atau keras kepala kalau orang Jawa bilang. Dasar kepala batu!, itu yang kalimat yang sering aku dengar dari suamiku. Begitu juga dengan Bapakku dulu, sering memakiku dengan kata-kata yang sama. Padahal, Bapakku, aku dan suamiku sama-sama Aries, keras kepalanya minta ampun.

Mungkin masalah sifat aku dan Bapakku memang sering bertolak belakang, tapi masalah passion, kami sangat klop. Aku selalu bilang ke semua orang sampai saat ini, kalau darah seniku itu menurun dari Bapak, yang sebenarnya juga bukan seniman. Dia suka menggambar, fotografi, musik dan membaca. Hasil gambarnya pun sangat bagus, layak dipuji. Karena dia lulusan arsitektur, jadi punya basic ilmu menggambar yang sangat kuat. Aku ingat ketika akhirnya kami pindah ke daerah Pondok Aren, Bapak lah yang mendesain ulang rumahnya, dengan meja gambar legend-nya, yang pasti dibawanya ke rumah baru. Dan kalau orang lain lebih suka memajang foto anggota keluarga dengan jepretan foto, Bapakku beda. Dia menggambar satu persatu kami semua dengan coretan crayon, dan memajangnya dengan frame besar di ruang tamu dan ruang tengah.

“Bapak lo nyeni banget ya, Ndis”. Kata teman-temanku ketika aku beranjak dewasa. Iya memang. Bapakku tuh nyeni banget, dan senang dengan semua yang berbau dengan kesenian. Karena itu dia akhirnya membolehkan aku sekolah di sekolah Kesenian. Tapi baiknya kita bicarakan dulu tentang awal mula passion seni aku muncul.

Di rumah pinggir rel ini, Bapak punya banyak koleksi buku, kaset zadul yang menggunakan pita, dan kaset Betacam. Aku tahu bentukan-nya kaset Betacam itu ya dari dia. Karena di tempat kerjanya di bidang audio visual, dan medianya adalah kaset Betacam. Dari era kaset VHS, Betacam, VCD, DVD, sampai streaming, aku mengalami semuanya, dan alhamdulillah memiliki semuanya, karena kecintaan aku dan kami pada dunia film. Aku hidup di berbagai era teknologi, yang membuat aku sering berdecak kagum dengan perkembangan zaman. Dan itu menjadi kebanggaan buat aku. Bayangkan, pada saat itu orang yang punya kaset Betacam itu jarang sekali. Dan di gang kami, jarang yang mengkoleksi kaset musik, apalagi Betacam. Bisa dibilang kami satu-satunya yang punya. Sebuah legacy yang pantas dibanggakan! Mereka lebih suka menonton di TV atau layar tancap! Yang kalau nonton ditemani nyamuk dan kecoa di lapangan merah. Dan mendengarkan lagu dangdut dari radio lokal, yang diputar dengan volume besar, macam sound horeg masa kini. Ckckckck... dinamika hidup di gang sempit. Yang bukan urusan kita jadi urusan kita. Yang bukan selera kita, terpaksa-lah jadi kesukaan kita juga.

Setiap pagi sebelum berangkat kerja, Bapak selalu memutar kasetnya. Yang paling sering sekali kudengar adalah lagu Iwan Fals dan Vina Panduwinata. Bapak memang penggemar Iwan Fals muda, dan Ibu penggemar berat atau die hard fans-nya Vina Panduwinata.

 

Untukmu yang duduk sambil diskusi

Untukmu yang biasa bersafari

Di sana di gedung DPR

Wakil rakyat kumpulan orang hebat

Bukan kumpulan teman-teman dekat

Apalagi sanak famili

Lihat selengkapnya