ANAK PINGGIR REL

Marloa Setiarini
Chapter #5

KISAH MOBIL TUA BAPAK

Ketika SD aku punya dua teman karib, sama-sama cewek dan sama-sama tinggal di pinggir rel. Kami sering menghabiskan waktu dengan bermain bersama. Petak umpet, dampu, bola bekel, sampai layangan. Ya, walaupun cewek, saat aku kecil memang agak tomboy, karena terpengaruh Kala, adikku. Dulu, belum ada yang namanya games-games console atau online. Menghabiskan waktu bermain mainan tradisional, memang menjadi core memory untuk aku saat ini. Nama sahabatku Yuli dan Gusti Ida. Dua-duanya beragama non muslim. Dari kecil aku sudah diajarkan toleransi beragama. Yuli beragama Kristen dan Gusti Ida atau Ida beragama Hindu. Setiap sore setelah mengejarkan PR, Yuli dan Ida menghampiri rumahku dan dengan lantang memanggilku

“Gendis, main yuk!”

Dan dengan cepat aku keluar sambil mengucap salam ke Ibuku. Kami bermain di rel kereta, yang bila sore hari sudah aman. Tidak ada lagi kereta lewat sore. Terakhir jam 4 sore. Entah kalau sekarang, ya. Biasanya kami bermain dampu atau permainan bebas aja. Melempar batu kerikil di rel kereta, dan melempar sejauh-jauhnya. Menjelang Maghrib kami selesai. Bersamaan dengan Bapak yang baru pulang kerja.

Ibu langsung membuatkan teh manis seduh. Aku bergegas mandi, karena setelah Magrib biasanya Bapak akan mengajarkan aku mengerjakan PR. Aku ingat, pertama kali yang mengajarkan aku membaca ya Bapak. Walaupun aku sudah satu SD waktu itu, tapi aku belum bisa membaca. Bapak mengajarkan aku dengan tegas dan keras, cenderung galak. Kadang aku nggak tahan dan menangis.

“Jangan cengeng!”, hardiknya makin keras. “Ayo ulang lagi! A!”

“A”

“B!”

“B”

“C!”

“C”

Dan seterusnya sampai Z dan diulang lagi dari A-B-C-D... Dengan suara lemah lembut aku mengikuti semua yang dia sebutkan. Sementara Bapak selalu bicara dengan tanda seru dibelakangnya. Tapi memang itu didikan yang paling pas untuk aku. Tidak sampai seminggu, aku berhasil membaca dengan lancar. Setiap ada PR Matematika, aku selalu minta ajarkan Bapak. Dan dengan perumpamaan yang sederhana, Bapak mencontohkan. Misalnya mensejajarkan korek api. 5+7= ????

Bapak mengambil korek api dan menyusunnya. Aku menjawab dengan tepat. Beda dengan sekarang yang dengan mudah bisa memencet kalkulator. Oh ya, Bapak seorang perokok berat. Karenanya di rumah banyak sekali korek api. Dan Bapakku sangat membenci nyamuk. Ini juga menular ke aku. Karena di rumah banyak nyamuk, dan sangat tidak ampuh hanya dengan menyemprot, Bapak selalu memburu nyamuk dengan caranya sendiri. Menjadikan kaki dan tangannya umpan, dan PLAK! Dibunuh lah nyamuk yang perutnya nampak gendut, setelah menghisap darah Bapak. Dan setelah itu? Nyamuknya ditempel di belakang pintu dan SRET! Darahnya dipeperkan di belakang pintu. Setiap hari setiap saat! Sampai ada ratusan lukisan nyamuk disitu! Di pintu yang untungnya sudah bobrok itu. Ckckck, nyeni sekali Bapak, ya...

Esoknya aku berangkat ke sekolah dengan Yuli dan Ida lagi. Ibu membekalkan aku sarapan. Nasi goreng kampung dan telor dadar kesukaanku. Istirahat jam 9 pagi. Kami berhamburan keluar. Aku jajan di pinggir pagar sekolah, dan melihat mobil Bapak lewat. Bapak yang mau berangkat kerja, pasti akan melewati SDN 05 Jelambar, tempat aku dan Kala sekolah. Dulu kendaraan Bapak hanyalah motor butut, sekarang sudah beberapa bulan ini, Bapak mendapat pinjaman mobil dari kantor. Dan karena di rumah tidak ada parkiran mobil, jadi harus diparkirkan di lapangan dekat dari rumah.

Ketika mobil Bapak lewat aku langsung melambaikan tangan dan berteriak lantang.

“Bapaaakk! Mau kerja ya? Hati-hati!”

Lihat selengkapnya