Aku dan Kala walaupun sering ribut masalah sepele, tapi kami cukup dekat. Aku dan Kala sering main bareng, dan mengaji bareng setiap Senin Kamis di rumah Bu Rima. Yang aku senang dari didikan kedua orang tuaku, sejak dini kami sudah didekatkan dengan pelajaran agama. Walaupun di sekolah ada pelajaran agama, tapi kami tetap di kursuskan. Biar nggak jadi Islam KTP, kalau kata Bapak waktu itu. Paham ajaran agama itu penting.
Kala juga disekolahkan di SD yang sama denganku, di SDN 05 Jelambar, persis di pinggir rel. Ketika aku kelas 5 SD, Kala duduk di kelas 3 SD. Bedanya dengan aku, Kala pintar pelajaran eksak, dan dia menyukai Matematika. Tapi seperti anak cowok lainnya, iseng dan bandelnya itu lho, bikin geleng-geleng kepala. Seperti siang itu, kelas Kala dihebohkan dengan kejadian sesuatu. Semua anak berkumpul di depan kelas.
Andi, teman Kala, menghampiri kelasku dan memanggiku dengan panik.
“Kak Gendis! Kala! Kala kena masalah!”
Aku yang lagi membuka buku, langsung terperanjat kaget. “Hah?! Kala kenapa, Ndi?”. Andi nggak menjawab dan langsung berlarian. Aku jadi ikut panik dan berlari dibelakangnya. Saat sampai, suasana terlihat chaos.
“Nunduk! Muntahin keluar! Ayo!”, kata Bu Grace, guru Matematika yang terkenal galak itu, sambil memukul tengkuk leher Kala!”
“Kala, kamu kenapa?!”
“Kesedak pensil kecil punya dia, Kak!”, jawab salah satu temannya, karena tahu, Kala pasti nggak akan bisa menjawab.
“Hah?! Astaga Kalaaaa! Kamu ada-ada aja, sih!”, saat itu aku panik setengah mati, dan mencoba mengeluarkan pensil itu dari kerongkongan Kala. Kok bisa sih?! Nih anak bener-bener ya bandelnya, batinku menggerutu. Kulihat wajah Kala memerah seperti kepiting rebus! Dan dia nggak bisa berhenti batuk hebat.
PLUK!