ANAK PINGGIR REL

Marloa Setiarini
Chapter #7

KARMA INSTAN

Pendidikan mengaji memang sudah ditanamkan sejak dini oleh kedua orang tua kami. Bahkan ketika masih TK, aku sudah belajar puasa setengah hari. Oh ya, TK-ku letaknya disebelah SDN 05, persis di pinggir rel. Dengan bau got mampet dan bisingnya suara kereta, menjadi pemandangan kami sehari-hari. Tapi disitulah semua cerita hidupku berawal. Ketika dewasa aku sadar, hidup itu collect the memory, yaitu memgumpulkan semua momen untuk diingat. Momen indah untuk dikenang, momen buruk untuk diambil hikmahnya. Takdirku-lah yang membawa aku lahir, tinggal dan besar di rumah pinggir rel. Masih bersyukur memiliki rumah, bukan bedeng dari triplek, yang banyak berdiri liar di pinggiran rel kereta.

Senin itu jadwal mengaji. Aku dan Kala les mengaji bersama bersama anak-anak lain, di rumah guru les kami, Bu Rima. Tapi seperti biasa, rasa malasku lagi kambuh saat itu. Setelah ashar aku dan Kala berangkat. Tapi di tengah jalan, aku pura-pura sakit perut ke Kala.

“Aduh dik, perut Kakak sakit banget! Kayaknya tadi pas di sekolah salah jajan, deh!”

“Ih, alesan! Bilang aja gak mau ngaji!”, jawab Kala tegas, karena dia tahu ini bukan sekali dua kali aku alasan sakit perut. Dengan akting meyakinkan, aku memegang perutku dengan wajah kesakitan.

“Ya ampun ngapain sih bohong! Tadi Kakak beli cireng saosnya kebanyakan! Udah ya, nanti Kakak nyusul!”, kataku sambil cepat berlari, untuk menghindari kecurigaan Kala.

Kala hanya bisa menghentakkan kaki sambil terus berjalan ke arah rumah Bu Rima. Setelah Kala menghilang, aku menyunggingkan senyum penuh kemenangan. Dibohongin mau aja hehehe, kataku dalam hati. Lalu aku berpikir, mau kemana ya? Kalau pulang ke rumah, Ibu pasti marahin aku. Entah kenapa saat itu yang kepikiran adalah rumah Bu RT di gang kami, Bu Indun, yang jarak rumahnya hanya 3 rumah dari kami. Rumah Ibu kalau sore selalu tertutup, jadi aku bisa leluasa main ke rumah Bu Indun.

Sementara pintu rumah Bu Indun selalu terbuka. Aku masuk rumah Bu Indun sambil celingak-celinguk melihat ke arah rumahku, karena memang jaraknya sangat dekat. Aku masuk ke rumah Bu Indun, baru mengucap salam. Memang keluarga kami sangat dekat dengan Bu Indun.

“Assalamualaikum... Bu Indunnn”, sapaku dengan panggilan khas yang agak mendayu, yang sebenarnya sedang merayu.

Bu Indun yang sedang menyapu menyambutku. “Wa’alaikumsalam. Gendis, kamu kok gak ngaji?”

Aku tahu Bu Indun akan bertanya, karena Bu Indun pun sampai hapal dengan jadwal mengajiku.

“Ngantuk, Bu. Aku boleh numpang tidur bentar, gak? Bentaaaarrr aja...”

“Astagfirullah anak ini. Disuruh ngaji malah ngantuk”

“Jangan bilang-bilang sama Ibu, ya Bu. Aku ngantuk soalnya...”, aku agak mikir sebebntar. Akhirnya aku jawab asal aja. “PR nya banyak banget! Jadi tidur malem banget, deh!”

Bu Indun hanya bisa menggelengkan kepala. Lalu dia menyuruh aku ke kamar diatas, tempat aku dan Kala sering main. Sebebas itu aku dengan Bu Indun. Dan sebenarnya, aku senang main ke rumah tetangga-tetanggaku yang menurut aku rumahnya lebih bagus dari rumahku. Ya, walaupun ada rumah yang lebih nggak layak, tapi seperti anak kecil lainnya, rumah orang akan lebih bagus dimataku saat itu. Karena rumahku itu sempit. Dan belum lagi dibelakang rumah ada empang, apalagi rumah samping rel kereta, semua polusi lengkap aku dapat! Rumah Bu Indun nggak disebelah rel kereta, karena posisinya di seberangku.

Bu Indun dan suaminya, Pak Hadi adalah ketua RT yang cukup disegani. Anak-anak mereka sudah besar. Yang pertama namanya Edi. Kami memanggilnya Bang Edi. Kami paling dekat dengan Bang Edi yang sudah kuliah. Aku dan Kala senang main di rumah Bu Indun yang punya banyak kamar itu. Sementara di rumahku, hanya ada satu kamar. Kami ber-empat tidur bareng. Karena di lantai atas hanya bisa untuk menyimpan jemuran. Kalau ditiduri khawatir akan ambruk lantainya.

Dan karena pulasnya, nggak terasa sejam aku tidur di kamar Bu Indun. Kayaknya aku memang sangat lelah hari itu, karena kemarin ke-asyikan berenang di Ancol. Bedanya memang, Kala anaknya lebih rajin mengaji daripada aku. Apalagi sejak insiden sepeda hilang itu, sepertinya Kala menebus kesalahannya dengan lebih rajin les mengaji. Seminggu dua kali nggak pernah dia lewatkan.

Les mengaji biasanya 2 jam lamanya. Akhirnya karena nggak enak sudah kelamaan, aku pamit pulang aja. Tapi aku nggak pulang ke rumah, aku jalan-jalan di sekitaran Jelambar. Celingukan bingung mau kemana. Saat itu aku berdiri di ujung gang sambil berpikir. Apa aku ke rumah Yuli aja ya? Atau ke rumah Ayu? Semoga mereka ada di rumah. Karena anak seumuran-ku waktu itu, memang banyak lesnya.

Lihat selengkapnya