Di sekolah aku punya beberapa teman yang buat aku sangatlah kaya. Yang pertama namanya Novi. Rumahnya di Kavling Polri, tempat orang-orang berada di Jelambar. Kedua namanya Ade. Rumahnya di daerah Wijaya Kusuma, yang termasuk elite pada masanya. Aku tahu Ade anak orang kaya, karena ketika booming TV swasta dan RCTI baru tayang, Ade sudah punya duluan. Aku sering mendengar ceritanya ketika dia menonton Mc Gyver, Knight Riders, dan lain-lain. Kayaknya kaset Betacam Bapak sudah kuno banget. Karena film Betacam Bapak kebanyakan film tua dan film kartun, untuk aku dan Kala. Tapi aku lebih suka dekat dengan Novi, karena Novi anaknya nggak sombong. Dan kami suka bertukar film Betacam.
Bahkan Novi dan Kakaknya pernah main ke rumahku, buat mengambil kaset Betacam. Padahal keadaan rumah saat itu lagi kacau balau, karena si mpus yang buang air di sofa. Sudah sofanya jelek, tambah makin jelek karena sering disantronin si mpus. Akhirnya daripada Novi dan Kakaknya kesini, aku menawarkan untuk mengantarkan kaset Betacam ke rumahnya. Lumayan sih kalau jalan kaki. Sekitar 2 kilometer. Tapi saat itu aku senang banget kalau main ke rumah Novi. Rumah orang kaya yang paling sering aku datangi. Rumahnya besar, lantai dua, dan banyak pohon rindang di halamannya. Setiap ke rumah Novi aku selalu bergumam, kapan ya aku bisa punya rumah kayak gini? Bapak sama Ibu memang nggak mau apa punya rumah begini, batinku dengan polosnya.
Dan setiap main ke rumah Novi, hal pertama yang paling kuingat adalah.... rumahnya wangi aroma daging! Ya, bau rebusan daging kaldu yang membuat aku ber-asumsi, oh rumah orang kaya tuh kayak begini, ya. Rumahnya bau daging. Beda banget dengan bau di rumahku. Disitu aku berpikiran, orang kaya itu setiap hari pasti makan daging. Duit mereka banyak! Makan daging setiap hari ya nggak masalah. Di rumahnya, Novi punya 2 pembantu yang selalu sigap melayani. Novi anak yang cantik. Paling cantik di SDN 05 Jelambar. Kulitnya putih mulus, rambutnya ikal, dan pastinya dia sangat terurus. Nggak ada sedikitpun panu di wajahnya. Dulu aku sampai berpikir keras, kenapa ya Novi mau main dengan aku? Aku kan anak pinggir rel, kurus dan jelek! Apa karena kaset Betacam ya, jadi Novi mau berteman dengan aku.
Ah, sudahlah. Masih kecil aja aku suka overthinking. Yang kutahu Novi anak yang baik dan tulus. Dengan siapapun dia akan bermain, tidak pandang bulu. Dan dia anak yang pintar. Novi adalah gadis ideal idolaku saat itu. Aku sering berandai-andai, suatu hari aku akan jadi seperti Novi. Cantik, pintar dan kaya raya. Kaya raya! Obsesiku sedari dini. Banyak uang dan tinggal di rumah besar dan punya kamar sendiri.
Hari itu, menghabisi liburan sekolah, Novi mengajak aku dan teman-temanku untuk main di rumahnya. Novi dan anak yang lain membuat games yang terinspirasi dari acara games show yang sangat populer di tahun 80-an saat itu, Fun House. Acara games yang memadukan kecerdasan dan ketangkasan. Pada saat itu Novi dan temanku yang menjadi team-nya. Mereka membuat soal pengetahuan. Dan siapa yang bisa menjawab, bisa mengambil hadiah yang ditulis disecarik kertas. Dan kami harus memanjat pohon di depan rumah Novi, supaya bisa mendapatkan hadiahnya.
“Kalian semua siap?”, kata Novi dengan lantang.
“Siaaappp!”, jawab kami nggak kalah lantang dan semangat. Saat itu ada 7 anak, termasuk Novi. “Semua tangan diatas tombol”, tambahnya menirukan gaya host Fun House. Padahal tidak ada tombol. Tombolnya adalah suara kita sendiri, hehehe. Aku, Dewi, Tia, Cece, Lisa, dan Bebi, dalam posisi siap menjawab. Novi mengambil secarik kertas dan membacakan soalnya.
“Siapa Bapak Pendidikan Nasional Indonesia?!”
“Tenot tenot!”, Lisa menirukan suara bel sambil mengangkat tangannya. “Pak Ki Hajar Dewantara!”, jawabnya dengan lantang.
“Ya benarrr!”, seru Novi dengan lantang.